Senin, 10 Mei 2021 06:07 WIB

Jurnal Kedokteran Kritik India yang Mengaku Berhasil Taklukkan COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
FILE - In this May 1, 2021, file photo, relatives carry the body of a person who died of COVID-19 as multiple pyres of other COVID-19 victims burn at a crematorium in New Delhi, India. COVID-19 infections and deaths are mounting with alarming speed in India with no end in sight to the crisis. People are dying because of shortages of bottled oxygen and hospital beds or because they couldn’t get a COVID-19 test. (AP Photo/Amit Sharma, File) Foto ilustrasi: AP/Amit Sharma
Jakarta -

Jurnal The Lancet mengkritik pemerintah India yang sempat jemawa mengaku berhasil mengendalikan wabah COVID-19. Peringatan para ahli terkait ancaman gelombang kedua tidak dihiraukan dan kini India harus menghadapi krisis COVID-19 terburuk sejak pandemi.

Dalam publikasi terbaru, Jurnal The Lancet menyebut apa yang dilakukan pemerintah India sebagai hal yang "tidak bisa ditoleransi".

Pemerintah disebut gagal karena memberi kesan bahwa India telah sukses mengalahkan virus Corona. Dampaknya warga jadi tidak disiplin lagi terhadap protokol kesehatan.

Selain itu, pemerintah juga tetap mengizinkan berbagai kegiatan yang mengumpulkan massa meski sudah mendapat peringatan ahli terkait potensi superspreader. Festival religius dan pesta politik tetap dilakukan di India.

"Konsekuensi dari kebijakan-kebijakan tersebut sudah jelas di depan mata. India harus melakukan perombakan terhadap responsnya dalam krisis,"tulis The Lancet seperti dikutip dari CNN, Senin (10/5/2021).

"Keberhasilan upaya tersebut akan bergantung pada pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kesalahannya, memberikan kepemimpinan dan transparansi, serta menerapkan respons kesehatan publik yang berlandaskan sains," lanjut jurnal.

India pada hari Minggu (9/5/2021), melaporkan 403.708 kasus COVID-19 baru. Sudah empat hari berturut-turut jumlah kasus baru di India melebihi angka 400.000.

Lebih dari 900.000 ribu pasien mendapat bantuan oksigen dengan sekitar 170.000 lainnya memerlukan ventilator.



Simak Video "Cerita Jurnalis India Menyaksikan Kekacauan Tsunami COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)