Selasa, 11 Mei 2021 08:45 WIB

Ahli sebut Virus Corona Telah Bermutasi Lebih dari 6.600 Kali

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
United Kingdom, British flag on the COVID-19, coronavirus, virus one side is dark, one side is bright Mutasi Corona. (Foto: Getty Images/iStockphoto/s-cphoto)
Jakarta -

Akhir-akhir ini beberapa varian dan mutasi baru dari virus Corona mulai bermunculan, seperti yang terbaru adalah varian B1617 dari India yang memiliki dua mutasi sekaligus.

Namun, ahli sekaligus Direktur Eksekutif dari Bioinformatics Institute di Agency for Science, Technology, and Research, Dr Sebastian Maurer-Stroh mengatakan virus Corona yang menjadi pandemi saat ini telah mengalami lebih dari 6.600 mutasi spike protein yang unik.

"Ada lebih dari 6.600 mutasi unik pada spike protein virus Corona sejak muncul pada Desember 2019. Ini menghasilkan satu mutasi unik setiap dua jam, baik pada siang atau malam hari," jelas Dr Maurer-Stroh yang dikutip dari Straits Times, Selasa (11/5/2021).

Mutasi virus akan muncul setiap ada kesalahan dalam proses replikasi karena ada penambahan, penghapusan, atau perubahan dalam kode genetiknya. Jika kesalahan meningkat, proses kelangsungan prospek hidupnya akan lebih banyak, salinan pada replikasi yang 'salah' ini akan tetap bertahan. Beberapa di antaranya bahkan bisa mempengaruhi versi aslinya.

Salah satu contohnya adalah D614G, yang meningkat pada Februari 2020 dan ditemukan pada seluruh sampel virus. Varian tersebut diberi nama klade atau grup keluarga sendiri dan menjadi klade G.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengungkapkan bahwa klade G ini meningkatkan efektivitas penularan. Tetapi, klade ini tidak menjadikan penyakit lebih parah, tidak mempengaruhi diagnosis, pengobatan, hingga vaksin.

Klaid G dan subklad, termasuk GRY yang merupakan bagian dari varian B117 dari Inggris telah menggantikan virus aslinya. Hal itu membuat virus lebih menular, menyebabkan penyakit lebih parah, mengurangi netralisasi antibodi secara signifikan, mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin atau diagnosis.

Namun, Dr Maurer-Stroh mengatakan tidak semua mutasi bisa memicu gelombang pandemi. Setiap varian pun biasanya terdiri dari 5-15 mutasi.

Apakah vaksin masih bisa melindungi?

Menurut Profesor Ooi Eng Eong dari Sekolah Kedokteran Duke-NUS, dari studi antar individu vaksin masih bisa mencegah infeksi dari berbagai varian yang menjadi perhatian.

"Studi antara individu yang divaksinasi sudah menemukan bahwa vaksin mRNA juga bisa mencegah infeksi dari berbagai varian yang menjadi perhatian. Antibodi yang dihasilkan oleh vaksin bisa mengenali bagian dari spike protein," lanjutnya.



Simak Video "Ditemukan 2 Mutasi Corona Baru, Menkes Minta Perbanyak Testing"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)