Selasa, 11 Mei 2021 12:35 WIB

Round Up

4 Fakta Meninggalnya Pria Jaktim Usai Vaksin AstraZeneca

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Foto: Getty Images/Antonio Masiello
Jakarta -

Seorang pria asal Buaran, Jakarta Timur, Trio Fauqi Virdaus meninggal dunia usai disuntik vaksin Corona AstraZeneca. Namun, sampai saat ini penyebab kematian dan kemungkinan kaitannya dengan vaksin masih belum diketahui.

Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prof Hindra Hingky Irawan Satari menyebut, belum ada cukup bukti yang bisa menyatakan bahwa Fauqi meninggal karena vaksin yang diterimanya.

Berikut beberapa fakta soal meninggalnya Fauqi usai disuntik vaksin AstraZeneca.

1. Tak ada keluhan saat observasi usai vaksinasi

Pasca menerima vaksin AstraZeneca, Fauqi melakukan observasi selama 30 menit. Selama masa observasi ia tidak merasakan keluhan apapun, sampai gejalanya muncul saat dirinya bekerja di kantor.

"Di kantor dia ngerasa nggak enak badan, jadi oleh pimpinannya diberikan izin untuk pulang, sampai pulang dia demam, menggigil, sakit kepala," tutur Prof Hindra saat dihubungi detikcom Senin (10/5/2021).

2. Tidak melaporkan KIPI yang dialami

Sayangnya, saat mengalami keluhan tersebut Fauqi tidak langsung melapor ke nomor telepon yang ada di belakang kartu vaksinasi. Ia memilih untuk berobat ke dokter umum, hingga membuat keadaannya semakin memburuk.

Fauqi mengalami gejala yaitu demam tinggi, menggigil, dan sakit kepala usai vaksinasi.

"Dia tidak melapor ke tempat vaksin, kan ada nomor telepon kan di belakang kartu itu. Tapi dia mau berobat ke dokter di dokter biasa dia berobat. Jadi pertanyaan saya, apakah dia punya penyakit dokter langganan, kebetulan dokter langganannya nggak praktik, jadi nggak berobat," jelas Prof Hindra.

"Tengah malam dia demam, tinggi, nggak berobat juga, kemudian paginya dia merasa pegal, jadi dipijit, yang bersangkutan belum menikah jadi tinggal serumah dengan keluarga. Setelah dipijat itu pingsan dia, lalu dibawa ke RS di Rawamangun, namun ternyata sampai di RS death on arrival," lanjutnya.

Sesampai di RS, denyut nadi pria tersebut sudah tidak ada dan dinyatakan meninggal jam 12 siang. Itu terjadi sekitar 24 jam pasca vaksinasi.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Vaksin AstraZeneca Ditargetkan Tiba Lagi di Indonesia Mei 2021"
[Gambas:Video 20detik]