Selasa, 11 Mei 2021 14:26 WIB

60 Persen Pemudik Positif Corona, Apa Maknanya? Epidemiolog UGM Angkat Bicara

Sukma Indah Permana - detikHealth
Sejumlah rambu disiapkan di Jl MH Thamrin, Cikokol, Kota Tangerang, Banten, Jumat (7/5/2021). Rambu tersebut untuk menghalau arus pemudik lokal. Ilustrasi mudik (Foto: Ari Saputra)
Yogyakarta -

Sebanyak 4.123 orang dari 6.742 pemudik terkonfirmasi poositif Corona atau COVID-19 melalui cek acak yang dilakukan pemerintah. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, menilai angka itu tak bisa jadi rujukan.

"Belum tentu (angka sebenarnya), karena untuk menggambarkan kondisi sebenarnya kita perlu kaidah yg benar dalam mengambil sampel secara acak," ujar Bayu melalui keterangan tertulis yang dikirim humas UGM kepada wartawan, Selasa (11/5/2021).

"Untuk mencapai gambaran sebenarnya perlu sistematika pengambilan sampel acak yang sesuai kaidah," lanjut dia.

Dia menilai data itu juga belum bisa menunjukkan gambaran angka sebenarnya sebab tes tersebut dilakukan secara acak dan tidak disebutkan alat tes deteksi COVID-19 yang digunakan.

Namun menurutnya jika tes secara acak menggunakan tes rapid antigen, swab PCR atau Genose maka angka terkonfirmasi positif sebesar itu menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan.

Meski demikian, Bayu menyatakan sepakat bahwa kebijakan pelarangan mudik dalam rangka mengantisipasi adanya gelombang kedua pandemi dan kekhawatiran naiknya kasus COVID-19 seperti yang terjadi di India. Ditambah lagi, meski sudah ada larangan mudik ternyata tetap ada saja warga yang memilih mudik jauh-jauh hari bahkan menerobos pos-pos penyekatan mudik.

"Pelarangan mudik susah dilakukan apalagi tanpa penjelasan dan komunikasi yang bagus dari pemerintah. Misalnya kenapa mudik dilarang tapi berwisata boleh?" katanya.

Dia menyarankan kepada warga yang terlanjur mudik harus dites dengan lebih ketat. Pemudik seharusnya dites COVID-19 sebanyak dua kali di saat kedatangan dan dikarantina terlebih dahulu.

Selanjutnya, harus ada penguatan sistem surveilans dan monitoring kasus di masing-masing wilayah terutama sampai tingkat RT/RW. Apabila sudah dilakukan deteksi dini dan diisolasi dengan cepat, maka kasus yang muncul bisa ditekan penyebarannya.

"Intinya jika memungkinkan semua pemudik yang kembali pulang dikarantina dulu lima hari dan dites dua kali," paparnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2