Selasa, 11 Mei 2021 15:45 WIB

4.000-an Pemudik Positif COVID-19, Satgas Ingatkan Sanksi Terobos Penyekatan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pemudik hendak terobos sekat di Bekasi-Karawang (Wilda/detikcom) Foto: Pemudik hendak terobos sekat di Bekasi-Karawang (Wilda/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah tak henti-henti menegaskan peniadaan mudik Lebaran untuk mencegah peningkatan kasus COVID-19. Menurut laporan, sebanyak 4.123 dari 6.742 pemudik diketahui positif COVID-19 setelah dilakukan testing acak.

"Bagi siapa pun yang melanggar kebijakan pemerintah selama masa peniadaan mudik tentunya akan memperoleh sanksi yaitu diminta kembali ke tempat asal perjalanan. Perlu diingat, bahwa esensi pelarangan mudik adalah untuk mencegah terjadinya penularan dan lonjakan kasus," terang Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/5/2021).

"Saya meminta masyarakat agar tidak melakukan kegiatan yang melanggar kebijakan ini dan berpotensi mendapatkan konsekuensi hukum," lanjutnya.

Tak dipungkiri, hingga kini masih banyak masyarakat nekat mudik, bahkan sampai menerobos penyekatan polisi dengan alasan rindu orangtua dan keluarga. Padahal, tidak melakukan pertemuan tatap muka adalah cara untuk melindungi keluarga. Bisa jadi, pemudik membawa virus Corona.

"Dampak dari peningkatan kasus dapat dilihat dalam 2 sampai 3 minggu pasca kegiatan mudik. Pada prinsipnya, terdapat potensi peningkatan kasus apabila masyarakat masih terus memaksakan diri untuk mudik karena mereka berpotensi tertular dan menularkan COVID-19," imbuhnya.

Mengantisipasi penyebaran COVID-19 dari perjalanan mudik yang terlanjur dilakukan, Prof Wiku menegaskan pada pemerintah dan satgas daerah untuk menetapkan kewajiban karantina selama 5x24 jam bagi masyarakat yang datang dari luar daerahnya.



Simak Video "COVID-19 di Indonesia Bisa Mereda Tahun 2022 Jika..."
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)