Selasa, 11 Mei 2021 21:28 WIB

Round Up

60 Persen Pemudik Positif Corona, Kok Jauh di Atas Positivity Rate Harian?

Yuviniar Ekawati - detikHealth
Sejumlah rambu disiapkan di Jl MH Thamrin, Cikokol, Kota Tangerang, Banten, Jumat (7/5/2021). Rambu tersebut untuk menghalau arus pemudik lokal. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Meski ada larangan untuk mudik lebaran, masih banyak warga yang nekat melanggarnya. Untuk mencegah penyebaran virus corona, pemerintah menyediakan tes acak pada beberapa pos penyekatan mudik.

Lewat tes acak tersebut, ditemukan ada 4.123 orang yang terkonfirmasi positif Corona di antara 6.724 pemudik, hal ini disampaikan oleh Airlangga Hartarto, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) pada Senin (10/5/2021).

Angka ini jadi perbincangan, sebab artinya konfirmasi positif ditemukan pada 60 persen pemudik. Angka ini jauh di atas positivity rate harian di Indonesia.

Meski demikian, pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengaku tak heran dengan temuan tersebut. Menurutnya, angka harian Corona di Indonesia justru terlalu rendah. Berdasarkan prediksi, seharusnya 10 kali lipat dari yang dilaporkan.

"Karena sebetulnya kasus yang terjadi di masyarakat lebih banyak, lebih tinggi, dari pemodelan epidemiologi itu setidaknya 10 kali dari yang dilaporkan, 50 ribu kasus, atau minimal itu 10 ribuan kasus harian itu," jelas Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (11/5/2021).

Dicky memperkirakan selama ini banyak kasus di Indonesia yang tidak terdeteksi karena kurangnya testing dan tracing. Padahal, level corona di Indonesia sudah masuk tahap 'community transmission' menurut organisasi kesehatan dunia (WHO).

"Jadi kalau test positivity rate kita yang sekarang tinggi, sudah sangat tinggi, itu juga bisa sebetulnya lebih dari yang 15 persen ini," ungkapnya.

"Ditemukan 2/3 pemudik itu positif ya nggak usah kaget, memang kita ini dalam posisi sangat serius karena bom waktu sudah di mana-mana, kita sudah dalam community transmission ini sudah satu tahunan, itu level terburuk," tambahnya.

Dicky mengingatkan agar masyarakat menahan diri untuk mudik lebaran tahun ini jika tidak ingin terjadi ledakan COVID-19 seperti di India.

"Sangat berbahaya dan riskan dan berisiko melakukan perjalanan pada situasi saat ini, atau mudik. Intinya batasi mobilitas," himbaunya.

Peningkatan yang terjadi di India juga berawal dari klaster-klaster yang tidak terdeteksi. Oleh sebab itu saat jumlah tes ditingkatkan, tidak mustahil bila ditemukan lonjakan kasus yang besar di Indonesia setiap harinya.

"Karena kalau tes kita ditingkatkan ratusan ribu ketemu juga nggak usah heran sebetulnya karena memang sudah ada, hanya karena memang minim 3T kita ini sangat berbahaya," katanya.

Dicky menghimbau, untuk menurunkan angka positif tersebut perlu dilakukan pembatasan mobilitas, kerumunan, dan penerapan protokol kesehatan, tidak hanya bergantung kepada vaksinasi COVID-19.



Simak Video "Epidemiolog Sebut Larangan Mudik Tak Efektif Tekan Mobilitas Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)