Sabtu, 15 Mei 2021 10:15 WIB

Pria DKI Meninggal Usai Vaksin Corona, Komnas KIPI Ungkap Temuan Baru

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Foto: Getty Images/Antonio Masiello
Jakarta -

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Irawan Satari mengungkap temuan lanjut investigasi pemuda 22 tahun, asal Jakarta Timur, yang meninggal usai disuntik vaksin AstraZeneca. Menurutnya, tak menutup kemungkinan wafatnya yang bersangkutan berkaitan dengan vaksin.

Berdasarkan hasil investigasi bersama dokter pribadi pemuda bernama Trio Fauqi Firdaus, Prof Hindra menegaskan riwayat kesehatan bukan menjadi penyebab dirinya wafat usai divaksin Corona.

"Sudah keluar (investigasi dengan dokter yang bersangkutan) tapi karena rekam medik ini kan nggak boleh disebutkan, cuma tidak terkait dengan penyebab meninggal yang bersangkutan," katanya saat diwawancara detikcom Sabtu (15/5/2021).

Meski begitu, kata dia, untuk benar-benar memastikan wafatnya Trio akibat vaksin Corona AstraZeneca, tetap memerlukan autopsi. Sementara, pihak keluarga hingga saat ini belum ada keterangan bersedia melakukan autopsi.

Sejauh ini, untuk melihat keterkaitan antara keduanya, disebut Prof Hindra sangat sulit lantaran data yang dikumpulkan sangat terbatas. Sebab, yang bersangkutan sudah wafat saat dibawa ke rumah sakit.

"Harusnya juga kan ada (data) trombosit yang jumlahnya rendah itu, nah ini kan kita nggak bisa dapat, orang sudah wafat datang ke rumah sakitnya," tuturnya.

"Mungkin kalau sempat dirawat, bisa diperiksa labnya, bisa CT scan kepala ya, cuman sayang (sudah wafat)," jelas Prof Hindra.

BPOM melakukan uji sterilitas vaksin Corona

BPOM disebutnya tengah melakukan uji sterilitas vaksin Corona untuk melihat apakah vaksin yang diberikan dalam kondisi terkontaminasi zat-zat berbahaya. Dilakukan di laboratorium.

"Kita uji sterilitas dan toksitasnya dari vaksin tersebut, di lab-nya BPOM, untuk menguji si kualitas vaksin-nya," sambungnya.

"Kita buktikan, nanti dari lab diharapkan steril tidak tercemar zat-zat berbahaya," beber Prof Hindra.

Ia kembali menegaskan, sangat sulit untuk menyimpulkan kaitan antara wafatnya yang bersangkutan dengan vaksin di data yang amat terbatas. Namun, sejauh ini risiko vaksinasi dibandingkan manfaat masih lebih rendah.

Prof Hindra mengajak agar masyarakat tetap menjalani vaksinasi Corona dengan mempertimbangkan manfaat yang lebih besar pasca divaksin.

"Ini kan tindakan medis ya mau divaksin, jadi memang ada risiko medis tuh, nggak mgkn nggak ada, semua buatan manusia, orang minum parasetamol aja ada risiko, tapi manfaat dari vaksin jauh lebih besar ketimbang risikonya," tutupnya.



Simak Video "Vaksin AstraZeneca Ditargetkan Tiba Lagi di Indonesia Mei 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)