Senin, 17 Mei 2021 15:45 WIB

Vaksin Corona Dikaitkan dengan Pembekuan Darah, Inikah Penyebabnya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Foto: Getty Images/Antonio Masiello
Jakarta -

Di tengah lajunya program vaksinasi COVID-19 di seluruh dunia, muncul kabar adanya kasus pembekuan darah yang disebut-sebut berkaitan dengan vaksin. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin COVID-19 AstraZeneca dan Johnson & Johnson (J&J).

Sampai saat ini, para ilmuwan di dunia terus mencari tahu dan memahami mengapa kedua vaksin tersebut bisa menyebabkan pembekuan darah. Meski jarang, kondisi ini bisa berpotensi mematikan.

"Memahami penyebabnya sangat penting untuk vaksin generasi berikutnya, karena virus Corona akan tetap bersama kita dan vaksinasi kemungkinan besar akan menjadi musiman," kata seorang profesor di Universitas Erasmus, Belanda, Eric Van Gorp, yang dikutip dari Fox News, Senin (17/5/2021).

Di Jerman, seorang peneliti mengklaim telah menemukan apa yang memicu pembekuan darah tersebut. Hal ini dikemukakan seorang peneliti Prof Andreas Geinacher dan timnya di Universitas Greifswald.

Mereka percaya, vaksin dengan platform adenovirus yang ditujukan untuk melawan virus bisa menyebabkan autoimun respons yang menyebabkan pembekuan darah. Menurut Prof Geinacher, reaksi itu bisa dikaitkan dengan protein yang tersesat dan pengawet yang dia temukan dalam vaksin AstraZeneca.

Prof Geinacher dan timnya juga baru saja mulai memeriksa vaksin J&J, telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 protein dalam vaksin AstraZeneca yang berasal dari sel manusia. Selain itu, ia juga menemukan pengawet yang dikenal sebagai asam ethylenediaminetetraacetic atau EDTA.

Hipotesis mereka adalah, EDTA yang umumnya untuk obat-obatan dan produk lain, membantu protein tersebut masuk ke aliran darah, di mana mereka mengikat komponen darah yang disebut faktor trombosit atau PF4 membentuk kompleks yang mengaktifkan produksi antibodi.

Peradangan yang disebabkan oleh vaksin dan dikombinasikan dengan kompleks PF4 bisa mengelabui sistem kekebalan agar percaya bahwa tubuh terinfeksi bakteri. Hal ini memicu mekanisme pertahanan kuno yang kemudian tidak terkendali dan menyebabkan pembekuan dan pendarahan.

Di sisi lain, Prof John Kelton dari McMaster University di Kanada pun menguji pasien dengan gejala pembekuan darah pasca vaksinasi. Mereka mereplikasi beberapa penelitian Prof Geinacher dan mengkonfirmasi temuannya. Namun, penyebabnya masih tidak jelas.

"Hipotesis (Prof Geinacher) bisa saja benar, tapi bisa juga salah," kata Prof Kelton.



Simak Video "Negara-negara Muslim yang Pakai Vaksin AstraZeneca"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)
eLife
×
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19 Selengkapnya