Senin, 17 Mei 2021 21:07 WIB

Keluarga Setujui Autopsi Jenazah Pria Jaktim yang Meninggal Usai Vaksinasi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Ilustrasi vaksin AstraZeneca (Foto: Getty Images/Antonio Masiello)
Jakarta -

Belakangan, meninggalnya pemuda 22 tahun asal Jakarta Timur heboh jadi perbincangan. Pasalnya, tak sampai 24 jam pasca disuntik vaksin AstraZeneca, ia wafat dengan catatan mengeluhkan efek samping vaksin, seperti demam tinggi hingga pegal.

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Irawan Satari menegaskan, untuk menemukan kaitan penyebab meninggal yang bersangkutan dengan vaksin AstraZeneva, perlu dilakukan proses autopsi jenazah. Pihak keluarga disebut Prof Hindra akhirnya bersedia melalui proses tersebut.

"Alhamdulillah (keluarga) sudah bersedia diautopsi, sedang disiapkan oleh Dinas Kesehatan DKI," jelas Prof Hindra kepada detikcom tanpa merinci kapan persisnya autopsi akan berlangsung.

Pemuda bernama Trio Fauqi Virdaus diketahui sudah dikebumikan 6 Mei lalu. Kesepakatan autopsi jenazah pemuda tersebut hasil dari diskusi bersama pihak keluarga Senin pagi (17/5/2021).

"Tadi pagi, kami datang, silaturahmi, berduka cita, kemudian saya konfirmasi kejadian-kejadian dari yang menunggu almarhum, dari sejak awal keluhan," tutur Prof Hindra.

Ia sangat berduka dan menyayangkan, almarhum belum sempat mendapat penanganan medis saat mengeluhkan beragam efek samping. Terlebih saat demam Trio tak kunjung mereda, dan mengeluhkan pegal-pegal hingga sempat dipijat.

Hal tersebut yang kemudian, juga menyulitkan proses investigasi Komnas KIPI. Sebab, tidak ada data apapun seperti pemeriksaan fisik hingga hasil CT scan, yang bersangkutan disebut Prof Hindra sampai ke RS dengan kondisi wafat.

"Jadi memang datanya nggak ada, data pemeriksaan fisik nggak ada, data wawancara dari almarhum nggak ada, pemeriksaan lab nggak ada, CT scan nggak ada, jadi ya mudah-mudahan dengan autopsi kita bisa mendapatkan apakah ada keterkaitan," sebut Prof Hindra.

"Baik keterkaitan antara vaksin dan yang diberikan, atau ada penyakit lain," tutupnya.



Simak Video "BPOM Pastikan AstraZeneca Batch CTMAV547 Aman Digunakan Kembali"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
eLife
×
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19 Selengkapnya