Selasa, 18 Mei 2021 07:23 WIB

Ngeri! WHO Sebut Tsunami COVID-19 di India Lebih Buruk dari yang Dilaporkan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kasus kematian akibat COVID-19 di India kembali memecahkan rekor sebelumnya. Saat ini, angka kematian di India telah mencapai 250 ribu orang. Foto: AP/Aijaz Rahi
Jakarta -

Pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan angka infeksi virus Corona di India lebih besar dari laporan resmi. Meski pada Senin (17/5) kasus harian cenderung menurun, namun tingkat kematian masih di angka 4 ribu orang per hari.

WHO menyebut angka infeksi Corona di India tidak dapat dijadikan patokan karena kurangnya pengujian di pedesaan, tempat virus juga menyebar dengan cepat dan akses menuju tempat pelacakan sulit dijangkau.

Bahkan dengan penurunan selama beberapa hari terakhir, ahli mengatakan tidak ada kepastian bahwa infeksi telah mencapai puncaknya, dengan kekhawatiran atas varian B1617 baru yang lebih menular.

"Masih banyak bagian negara yang belum mengalami puncak, mereka masih naik," kata kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dilaporkan Straits Times mengutip surat kabar The Hindu.

Dr Swaminathan menunjuk pada tingkat positif nasional yang sangat mengkhawatirkan yaitu sekitar 20 persen dari tes yang dilakukan. Angka ini merupakan tanda bahwa mungkin ada gelombang yang lebih buruk segera datang.

"Pengujian masih tidak memadai di banyak negara bagian. Dan ketika Anda melihat tingkat positif pengujian yang tinggi, jelas kami tidak cukup menguji. Jadi, angka absolut sebenarnya tidak berarti apa-apa ketika diambil sendiri; mereka harus diambil dalam konteks seberapa banyak pengujian dilakukan, dan uji tingkat kepositifan," jelasnya.

Belum lagi anggapan bahwa tes PCR di India banyak yang tidak akurat. Dilaporkan bahwa hasil yang tidak akurat itu terjadi karena mutasi ganda COVID-19 yang menyebar di Negeri Bollywood itu.

Namun hal ini masih belum bisa diterima oleh para ahli yang mengaku bahwa fenomena ini masih diteliti dan belum dapat disimpulkan.

"Penurunan kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di India ini hanyalah ilusi," kata profesor kedokteran S. Vincent Rajkumar dari Mayo Clinic di Amerika Serikat.

Perdana Menteri Narendra Modi mendapat kecaman karena lambatnya peluncuran kampanye imunisasi di produsen vaksin terbesar dunia itu. Hingga saat ini India telah memvaksinasi penuh lebih dari 40,4 juta orang, atau 2,9 persen dari populasinya.



Simak Video "20 Juta Kasus Corona di India"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)