Selasa, 18 Mei 2021 14:31 WIB

Pelanggaran Diviralkan, Bikin Jera atau Mentok Jadi Guyonan?

Vidya Pinandhita - detikHealth
screenshot video viral pemudik marah ketika ditegur petugas Foto: screenshot viral
Jakarta -

Belakangan banyak sekali video viral aksi memaki petugas di titik penyekatan mudik. Banyak kalangan menilai, pelanggaran seperti itu perlu diberi efek jera dengan cara dipermalukan dan diviralkan di media sosial.

Bukan hanya bikin pelaku jera, tapi diharapkan menjadi edukasi bagi yang lain untuk tidak ikut-ikutan melanggar. Tapi faktanya, aksi pelanggaran disertai memaki-maki petugas kok ada terus? Padahal semuanya juga viral lho.

Psikolog Anastasia Sari Dewi, founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, menjelaskan bahwa larangan mudik ini memang bukan perkara mudah. Pasalnya, bermudik di kala lebaran sudah bertahun-tahun menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia.

"Tingkat pendidikan juga perlu diperhatikan, dipertimbangkan sehingga sulit sekali untuk diatur karena mereka lebih, atau kemampuan untuk menganalisa sebab-akibat dan risiko khususnya terkait pandem itu tidak terlalu tinggi. Mereka kurang mengerti, kurang bisa menangkap esensi terkait ini. Jadi hanya kalangan tertentu yang bisa paham bahayanya pandemi dan kerumunan," terang Sari pada detikcom, Senin (17/5/2021).

Video viral tersebut memang berpotensi menciptakan jera bagi pelaku, serta bikin publik yang menonton berpikir ulang untuk melanggar, lalu terpengaruh untuk mematuhi larangan mudik.


Ia tak heran video-video viral ini menjadi bahan tertawaan pengguna media sosial. Sederhananya, disebabkan tingkah pelaku dalam video yang berbeda dari sikap masyarakat lazimnya.

Akan tetapi ia mengingatkan, tontonan ini harus disikapi dengan bijak karena bisa jadi, yang dipertontonkan hanyalah potongan dari apa yang sebenarnya terjadi di balik video.

"Sebenarnya tentu saja ada tertawanya, tapi apakah yang kita pikirkan semua bisa diambil nilai edukasinya? Tentu saja hanya sebagian orang, kembali lagi ke orang-orang dengan tingkat pendidikannya seperti apa, kemampuan analisa masalah seperti apa," terang Sari.

"Media sosial menampilkannya lengkap atau tidak, justru terpotong-potong infonya. Itu juga perlu diperhatikan. Di saat tidak lengkap, tidak ada keterangan lengkap atau justru lebih fokus pada 1 pihak tertentu saja. Itu dampaknya buruk untuk publik. Publik menjadi dibuat rancu, bias. Informasinya berat sebelah, atau di-set," lanjutnya.



Simak Video "Epidemiolog Sebut Larangan Mudik Tak Efektif Tekan Mobilitas Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)