Rabu, 02 Jun 2021 10:05 WIB

Kisah di Balik Eksisnya Jamu Jago Selama 103 Tahun di Indonesia

Content Promotion - detikHealth
Jamu Jago Foto: dok. Jamu Jago
Jakarta -

Adanya pandemi ini memaksa masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Hal ini makin dipertegas dengan diberlakukannya PPKM di sejumlah daerah di Indonesia untuk menekan penyebaran COVID-19.

Selain melakukan beberapa aktivitas di rumah saja, menjalani protokol kesehatan juga menjadi kunci menghadapi masa pandemi ini. Dengan menggunakan masker ketika harus keluar rumah, menjaga jarak, dan mencuci tangan dapat membantu menekan penyebaran virus COVID-19.

Ada cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah virus, yaitu dengan meningkatkan imunitas tubuh. Banyak cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ini, salah satunya dengan rutin mengonsumsi jamu.

Jamu adalah ramuan tradisional yang sudah mengakar pada kebudayaan Indonesia sejak 1.300 tahun yang lalu. Jamu terbuat dari bahan-bahan alami, yaitu campuran beberapa tanaman yang mempunyai khasiat bagi kesehatan.

Pada zaman dahulu, jamu dijual oleh ibu-ibu yang sekarang lebih dikenal sebagai jamu gendong. Mereka setiap hari harus meracik sendiri di rumah dengan peralatan yang sederhana.

Melihat hal itu seorang pengusaha mulai bermimpi untuk membuat jamu yang siap seduh, praktik digunakan, berkualitas, dan mudah diperoleh. Pengusaha tersebut adalah T.K Suprana. Ia pun sukses mendirikan industri jamu pada tahun 1918 yaitu Jamu Jago.

Jamu Jago didirikan di desa Wonogiri, berawal dari warung sederhana di rumah T.K. Suprana. Adapun asal usul logo ayam dari Jamu Jago didapatkan dari sebuah cerita yang dialami sendiri oleh TK. Suprana.

Suatu hari datang musafir (pengembara) yang juga membawa 1 ayam jago untuk mencari penginapan, dan T.K. Suprana memberi tumpangan untuk musafir tersebut agar bisa istirahat dan bermalam.

T.K Suprana juga memberi makan ayam jago dari pengembara itu. Waktu terbitnya pagi, musafir terbangun dan heran dengan suara tumbukan rempah jamu, dan T.K Suprana memberitahu kalau ia berjualan Jamu yang dijual di lingkungan rumahnya.

Tidak lama musafir berpamitan pulang, musafir itu memberikan saran untuk memberikan nama Jago untuk label jamunya. Karena konon kata 'JAGO' artinya adalah 'Bisa dinikmati turun temurun'.

Pada tanggal 1 Juni, Jamu Jago sudah memasuki 103 tahun di Indonesia, dengan visinya yaitu menyehatkan masyarakat dengan cara yang alami, aman dan terjangkau. Bagi Jamu Jago, kesehatan dan kepuasan pelanggannya adalah yang paling penting, karena dalam pembuatannya Jamu Jago hanya menggunakan bahan-bahan alami berkualitas terbaik.

Hal tersebut dilakukan untuk menghasilkan jamu yang aman dan berkhasiat nyata. Penting juga bagi Jamu Jago, jamu yang merupakan warisan budaya Indonesia dapat terus dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh generasi masa kini dan nantinya diwariskan untuk generasi mendatang.

Kisah di Balik Eksisnya Jamu Jago Selama 103 Tahun di IndonesiaFoto: Dok. Jamu Jago

Salah satu produk yang diproduksi oleh Jamu Jago adalah seri Alamix yang merupakan sirup jamu siap seduh dan memiliki 4 varian yaitu Beras Kencur, Kunir Asam, Jahe dan Temulawak Jahe. Dibuat dari ekstrak tanaman berkhasiat sehingga kesegaran rasanya terjaga dengan membawa manfaat kesehatan bagi tubuh.

Jamu Jago dengan pengalaman di industri jamu selama 103 tahun menghadirkan jamu Alamix yang praktis dan sehat sebagai solusi dan jawaban dari kebutuhan masyarakat Indonesia terutama menghadapi situasi pandemi.

Jamu Jago selalu ingin menularkan rasa bangga dan cinta terhadap jamu dan di hari jadi yang ke 103 kali ini ingin berbagi dengan memberikan hadiah Jamu Alamix untuk setiap pembelian produk Jamu Jago di official store Tokopedia dan Shopee.

(ads/ads)