Jumat, 04 Jun 2021 16:01 WIB

Terungkap, Penyebab Angka Kematian Corona Anak di Studi RSCM Capai 40 Persen

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Terhitung sudah 6 bulan sejak pemerintah mengumumkan kasus Corona pertama di Indonesia pada 2 Maret lalu. Kini, Per 2 September angka kasus positif COVID-19 telah mencapai 180 ribuan jiwa. Sejumlah petugas mengubur jenazah COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Menurut petugas akhir-akhir ini aktivitas penguburan meningkat. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Sebuah studi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, menemukan angka kematian Corona pada anak-anak mencapai 40 persen. Penelitian ini dilakukan sejak Maret hingga Oktober 2020 dan telah dimuat dalam International Journal of Infectious Diseases.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 490 pasien anak yang terduga positif Corona dilakukan tes PCR (polymerase chain reaction). Hasilnya, 50 pasien terkonfirmasi positif terkena COVID-19.

Kemudian, dari 50 pasien yang positif Corona, 20 pasien atau 40 persen di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Kenapa angka kematiannya begitu besar?

Menurut peneliti utama, Rismala Dewi, penyebabnya adalah hampir semua anak yang meninggal tersebut memiliki komorbid atau penyakit penyerta, bahkan beberapa di antaranya mengidap lebih dari satu komorbid.

"Jadi dalam penelitian memang belum bisa kita menyimpulkan bahwa anak-anak ini murni kematiannya karena COVID. Jadi di highlight bahwa pemeriksaan SARS-COV-2-nya positif," kata Rismala dalam webinar yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jumat (4/6/2021).

"Dilihat juga di-trace lagi bahwa pasien-pasien ini banyak yang komorbid, hanya empat yang komorbidnya satu, tapi 16 pasien komorbidnya lebih dari satu," lanjutnya.

Rismala mengatakan kebanyakan pasien-pasien anak ini mengidap gagal ginjal. Selain karena faktor komorbid, terlambatnya penanganan juga menjadi salah satu faktor tingginya kematian anak akibat COVID-19.

Pasalnya, kata Rismala, pada bulan Maret-Oktober 2020, banyak orang yang masih takut untuk datang ke rumah sakit, sehingga mereka baru memeriksakan diri ketika kondisi penyakitnya sudah cukup berat.

"Jadi dulu kalau sudah berat, baru dibawa ke rumah sakit. Nah itulah mungkin faktor-faktor kondisi pasien ini pada saat masuk berat, sehingga menyebabkan kematian," tuturnya.



Simak Video "Satgas soal Laporan Kasus Covid-19 di RSCM: Ada Sedikit Peningkatan"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/naf)