ADVERTISEMENT

Selasa, 08 Jun 2021 20:43 WIB

Mengenal Radang Tenggorokan dan Kaitannya dengan COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Female pediatrician using a swab to take a sample from a patients throat Radang tenggorokan (Foto: iStock)
Jakarta -

Radang tenggorokan didefinisikan sebagai keluhan nyeri, kering, dan gatal di tenggorokan. Dikutip dari Healthline, diperkirakan setiap tahunnya ada 13 juta kunjungan ke dokter dengan keluhan tersebut.

Kondisi ini sering menyebabkan orang yang mengidapnya sulit berbicara bahkan menelan, dan menyebabkan tonsil tampak memerah pertanda radang. Adapun beberapa penyebab radang tenggorokan yang paling umum dialami, seperti:

1. Infeksi

Infeksi bakteri streptococcus adalah penyebab dari 40 persen radang tenggorokan pada anak. Selain itu, mikroorganisme lain juga bisa menjadi pemicunya, seperti virus flu.

2. Alergi

Sistem imun bisa bereaksi pada berbagai pemicu alergi, seperti bulu hewan peliharaan hingga serbuk sari. Hal ini akan menyebabkan hidung tersumbat, mata berair, bersin, dan iritasi tenggorokan.

Saat lendir di hidung berlebih, itu bisa menetes ke bagian belakang tenggorokan atau disebut postnasal drip, yang bisa mengiritasi tenggorokan.

3. Iritasi

Radang tenggorokan juga bisa disebabkan karena faktor cuaca. Cuaca yang kering bisa menyebabkan mulut dan tenggorokan mudah gatal dan iritasi. Terlebih jika ada paparan polusi seperti debu maupun asap rokok.

4. GERD

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) juga bisa menjadi penyebab radang tenggorokan. Ini karena berbaliknya asam lambung ke arah mulut sehingga bisa menyebabkan iritasi. Ini biasanya muncul disertai dengan nyeri pada area dada.

5. Berbicara keras atau berteriak

Tekanan otot yang terjadi saat berbicara keras atau berteriak bisa memicu radang tenggorokan. Ini sangat mungkin terjadi jika dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama.

6. Tumor

Meski kurang umum terjadi, tetapi tumor yang muncul di sekitar rongga mulut juga bisa menjadi penyebab radang tenggorokan. Jika penyebabnya tidak jelas dan tak kunjung sembuh, perlu diwaspadai mungkin itu salah satu tanda dari kanker.

Apa saja gejala radang tenggorokan?

Gejala yang bisa muncul saat seseorang mengalami radang tenggorokan yaitu:

  • Gatal
  • Tenggorokan terasa kering
  • Sakit saat menelan
  • Amandel memerah

Biasanya, ada beberapa kondisi yang sering muncul saat mengalami radang tenggorokan, seperti:

  • Hidung tersumbat
  • Pilek
  • Bersin
  • Batuk
  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar di leher
  • Suara serak
  • Pegal-pegal
  • Sakit kepala
  • Nafsu makan hilang.

Lalu, bagaimana kaitan radang tenggorokan dengan COVID-19? Simak di halaman berikutnya.

Bagaimana mengatasinya?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi radang tenggorokan. Selain istirahat, beberapa obat rumahan yang bisa digunakan yaitu:

  • Berkumur dengan air hangat dicampur garam
  • Minum air hangat, seperti teh madu, air hangat dengan lemon, atau kaldu sup.
  • Konsumsi makanan dingin misalnya es krim.
  • Istirahat

Radang tenggorokan dan COVID-19

Dikutip dari Times of India, virus Corona bisa dengan mudah masuk ke dalam tenggorokan dan memicu rasa nyeri di area tersebut. Radang tenggorokan juga disebut-sebut sebagai salah satu dari gejala COVID-19. Bagaimana membedakannya.

Sakit tenggorokan pada pasien COVID-19 terjadi saat virus masuk ke selaput yang berhubungan dengan hidung dan tenggorokan, kemudian muncul pembengkakan. Muncul rasa sakit sampai pegal yang dirasakan pasien Corona, atau disebut 'faringitis'.

Gejala pada pasien Corona akan memicu kondisi lain yang lebih dominan seperti kelelahan, batuk kering, hingga demam tinggi. Sementara pada pasien non COVID-19, yang menandakan radang tenggorokan, nyeri hanya muncul di area tenggorokan, dan tidak mengeluhkan gejala lain seperti kelelahan.

Selain itu, nyeri akibat radang tenggorokan itu akan muncul lebih awal daripada yang dialami pasien Corona.

"Radang tenggorokan bisa disebabkan infeksi virus atau bakteri. Bisa juga karena alergi, asam lambung naik, stres, sampai dehidrasi," jelas Michael Lerner, MD, pakar laring dari Yale Medicine.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT