Kamis, 10 Jun 2021 19:30 WIB

60 Persen Lebih Menular, Varian Delta Tersebar di 5 Wilayah RI

Vidya Pinandhita - detikHealth
Indonesian flag waving and Coronavirus 2019 nCov concept. Asian outbreak in Indonesia, coronaviruses influenza as dangerous flu strain cases as a pandemic. Microscope virus Covid19 close up. Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/RECSTOCKFOOTAGE)
Jakarta -

Penelitian terbaru oleh epidemiolog di Inggris menemukan, varian B1617.2 atau varian Delta 60 persen lebih mudah menular dibandingkan varian Alpha atau B117 yang pertama kali ditemukan di Inggris.

Menurut Neil Ferguson, peneliti dari Imperial College London, varian Delta menyebar lebih cepat hingga berpotensi memicu gelombang ketiga COVID-19 di Inggris. Sebelumnya, gelombang kedua diketahui terjadi pada musim dingin, dipicu oleh penyebaran varian Alpha yang teridentifikasi di Kent, Inggris Tenggara.

Akan tetapi, belum ada kajian lebih lanjut perihal prediksi lonjakan rawat inap dan kasus kematian akibat varian Delta. Pasalnya, pihak peneliti masih membutuhkan data detail terkait efikasi vaksin pada COVID-19 bergejala berat akibat varian Delta.

"Ada kemungkinan kita bisa melihat gelombang ketiga lainnya setidaknya sebanding dalam hal rawat inap," kata Ferguson, dikutip dari Reuters, Kamis (10/6/2021).

"Saya pikir kematian mungkin akan lebih rendah karena vaksin memiliki efek perlindungan yang sangat tinggi. Namun, masih bisa sangat mengkhawatirkan. Masih belum cukup kepastian," lanjutnya.

Apakah vaksin masih 'mempan'?

Sebelumnya, Kesehatan Masyarakat Inggris menyatakan, efektivitas 1 dosis vaksin Pfizer dan AstraZeneca cenderung lebih rendah dalam melawan infeksi COVID-19 akibat varian Delta, dibandingkan 2 dosis vaksin.

Ferguson curiga, kemudahan transmisi varian Delta ini disebabkan kemampuan varian 'kabur' dari vaksin. Namun tak tertutup kemungkinan, vaksin COVID-19 tetap berkontribusi memberikan perlindungan, meski tak setinggi perlawanan pada varian Corona lainnya.

Kasus varian Delta di Indonesia

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio pada Rabu (9/6/2021) menerangkan, morbiditas varian Delta memang lebih mengkhawatirkan, dengan potensi tingkat keparahan penyakit dan kematian yang lebih tinggi. Namun, hingga kini Indonesia belum memiliki kepastian soal perbedaan signifikan varian Delta dengan varian Corona lainnya.

Per Selasa (8/6/2021), varian Delta telah ditemukan sebanyak 31 kasus COVID-19 di Indonesia, tersebar di Jawa Tengah (13 kasus), DKI Jakarta (9 kasus), Sumatera Selatan (4 kasus), Kalimantan Tengah (3 kasus), dan Kalimantan Timur (3 kasus).



Simak Video "AstraZeneca CTMAV547 Dipastikan Aman, Satgas Harap Masyarakat Menerima"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)