Senin, 14 Jun 2021 10:00 WIB

Varian Delta India Terdeteksi di Kudus, Pakar UI Sebut Gejalanya Lebih Berat

Firdaus Anwar - detikHealth
Kasus COVID-19 melonjak di Kudus, Jawa Tengah. Akibatnya, sejumlah pasien harus antre di rumah sakit untuk dapat masuk IGD RSUD Dr. Loekmono Hadi. Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO
Jakarta -

Kasus baru COVID-19 di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Pada Minggu (13/6/2021), kasus harian COVID-19 bahkan hampir kembali menyentuh angka 10.000.

Salah satu faktor penyebab lonjakan kasus disebut sebagian ahli karena hadirnya varian baru Corona di Indonesia. Sebagai contoh, di Kudus, Jawa Tengah, sudah terdeteksi 28 varian Delta B1617.2 atau yang sebelumnya disebut varian India dari 34 sampel yang diperiksa.

Guru besar sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan varian Delta memiliki kemampuan menular sangat cepat. Terbukti dari peningkatan jumlah kasus varian Delta yang terdeteksi di Indonesia.

"Barusan liat di website GISAID untuk update kasus mutasi ternyata dalam empat minggu terakhir terjadi peningkatan 51,4 persen varian Delta dari India di Indonesia," kata Prof Ari pada Senin (14/6/2021).

Prof Ari mengatakan varian Delta harus diwaspadai karena bisa menimbulkan gejala yang lebih parah. Hal ini membuat kemungkinan seorang pasien harus dirawat di rumah sakit karena komplikasi jadi lebih tinggi.

"Gejala sakit pasien lebih berat dari virus sebelumnya. Meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual. Pasien perlu dirawat di rumah sakit, memerlukan suplementasi oksigen dan menimbulkan berbagai komplikasi," kata dr Ari.

"Semoga kita terhindar dari varian baru Delta yang berbahaya ini," pungkasnya sambil menambahkan agar semakin ketat menerapkan protokol kesehatan.



Simak Video " Asal-usul Penyebutan Varian COVID-19 'Delta Plus'"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)