Rabu, 16 Jun 2021 21:57 WIB

Penting! Kenali Tanda-tanda Keguguran, Flek hingga Perdarahan

Ardela Nabila - detikHealth
Asian young woman patient receiving bad news, Woman patient is desperate and crying. Her Mother support and comforting her patient with sympathy. Ilustrasi keguguran (Foto: iStock)
Jakarta -

Salah satu risiko yang bisa dialami oleh setiap ibu hamil adalah keguguran. Berasal dari bahasa Latin aboriri dan abortus, keguguran artinya berhentinya kehamilan secara spontan atau diinduksi sebelum janin dapat hidup.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), abortus didefinisikan sebagai terhentinya hasil konsepsi atau kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau janin lahir dengan berat kurang dari 500 gram.

Meski demikian, penggunaan kata abortus sering kali disalahartikan sebagai penghentian kehamilan secara sengaja. Penggunaan kata miscarriage juga kerap digunakan sebagai peristiwa keguguran yang terjadi secara spontan.

Pada setiap kehamilan, risiko kegugurannya adalah 10-20 persen. Umumnya, sebanyak 80 persen keguguran terjadi pada trimester satu atau 12 minggu pertama kehamilan.

Dalam ulasan di Williams Obstetrics Textbook disebutkan, terdapat sekitar 50 persen ibu hamil yang mengalami anembryonic, yakni kondisi di mana kantung kehamilan tidak mengandung embrio yang dikenal dengan istilah Blighted Ovum.

Sementara itu, 50 persen ibu hamil lainnya mengalami embryonic, yaitu kondisi yang dijumpai embrio pada kantung kehamilan, tetapi embrio tersebut berhenti berkembang. Kedua peristiwa tersebut biasanya terjadi karena adanya masalah pada kromosom, seperti Trisomy, Monosomy, Triploidy, dan lainnya.

Tanda keguguran

Salah satu tanda paling umum apabila ibu hamil mengalami keguguran adalah terjadinya pendarah dari vagina. Pendarahan tersebut bisa berupa flek atau darah mengalir, tetapi bisa juga berupa gumpalan darah dan jaringan yang merupakan bagian dari kehamilan.

Keluhan lain yang bisa dirasakan jika terjadi pendarahan adalah kram atau nyeri pada perut dan punggung bagian bawah.

Jenis keguguran

Berdasarkan klasifikasinya, keguguran dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

  • Abortus imminens, yaitu kondisi di mana janin belum keluar dan belum ada pembukaan jalan lahir (ancaman abortus).
  • Abortus insipiens, yaitu keguguran yang terjadi ketika janin belum keluar, namun sudah ada pembukaan jalan lahir.
  • Abortus inkompletus, yaitu keguguran yang terjadi lantaran sebagian jaringan kehamilan sudah keluar dari rahim.
  • Abortus kompletus, yaitu keguguran yang terjadi saat seluruh jaringan kehamilan sudah keluar dari rahim.
  • Missed abortion, yaitu kondisi ketika janin tidak lagi berkembang, denyut jantung berhenti, namun jaringan belum keluar dari dalam rahim.

Faktor risiko penyebab keguguran

Mewaspadai faktor risiko penyebab keguguran penting bagi ibu hamil. Untuk mencegah terjadi hal demikian, berikut ini sejumlah faktor risiko yang memicu terjadinya keguguran:

  • Faktor janin ketika ada kelainan genetik.
  • Faktor maternal ibu yang disebabkan oleh beberapa faktor, beberapa di antaranya adalah saat ibu hamil di atas usia 35 tahun, mengidap penyakit tertentu, dan menjalani pola hidup tidak sehat.
  • Faktor paternal pada ayah, di mana terdapat kelainan pada sperma.

Komplikasi

Keguguran yang menimbulkan terjadinya banyak pendarahan berisiko menyebabkan anemia dan syok pada ibu hamil. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka nyawa ibu hamil menjadi terancam.

Selain itu, sisa jaringan kehamilan yang tertinggal di dalam rahim juga berisiko menyebabkan infeksi.

Meski keguguran kerap membuat banyak ibu hamil khawatir, sebenarnya terdapat cara yang bisa dilakukan untuk mencegah keguguran, lho. Apa yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mencegahnya?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Teman Bumil Rilis Buku soal Kehamilan dan Parenting Tanpa Galau"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)