Jumat, 18 Jun 2021 05:30 WIB

6 Fakta Varian Delta, Varian 'Ganas' yang Mendominasi Corona RI

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sejumlah tenaga kesehatan berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet, Letkol Laut (K) Muhammad Arifin mengatakan tidak akan mengurangi jumlah tenaga kesehatan selama masa Lebaran 2021, hal tersebut untuk mengantisipasi kenaikan kasus COVID-19 dari masyarakat yang tetap melakukan mudik meski adanya larangan pemerintah sama seperti periode tahun lalu. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Varian Corona B1617.2 yang pertama kali ditemukan di India atau varian Delta mulai menyebar di beberapa wilayah Indonesia. Varian ini diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC) oleh WHO karena diduga lebih menular dibandingkan varian aslinya.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan per 13 Juni, sudah ada 107 varian Delta yang tersebar, menjadikannya VoC yang mendominasi di Tanah Air.

Mantan Direktur WHO SEARO, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkap beberapa hal terkait varian Delta, mulai dari tingkat penularan hingga dampaknya terhadap vaksin.

1. Terbukti lebih menular

Varian Delta telah terbukti meningkatkan risiko penularan. Di Inggris, ada lebih dari 42 ribu kasus varian Delta, naik 70 persen dari minggu sebelumnya atau naik 29 ribu kasus dalam waktu sepekan.

"Juga, Public Health England (PHE) melaporkan bahwa varian Delta ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa. Juga waktu penggandaannya (doubling time) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari," jelas Prof Tjandra kepada wartawan, Kamis (17/6/2021).

2. Jumlah penderita baru

Data terbaru dari Inggris menunjukkan bahwa secondary attack rates atau jumlah penderita baru varian Delta lebih tinggi daripada Alfa. Secondary attack rate varian Delta adalah 2,6 persen dan varian Alfa sebesar 1,6 persen pada mereka yang ada riwayat bepergian. Pada kontak kasus yang tidak ada riwayat bepergian, kasus varian Delta 8,2 persen, sementara varian Alfa 12,4 persen.

3. Keparahan penyakit

Meski varian Delta belum terkonfirmasi membuat infeksi lebih berat atau menyebabkan kematian yang lebih tinggi, ada laporan peningkatan kasus rawat inap akibat varian ini.

"Di sisi lain, memang ada beberapa laporan yang membahas tentang kemungkinan lebih beratnya penyakit yang ditimbulkan varian ini," papar Prof Tjandra.

4. Reinfeksi

Dalam pemaparannya, Prof Tjandra menyinggung dampak varian Delta terhadap kemungkinan terinfeksi ulang sesudah sembuh. Ia mengatakan ada laporan bahwa pada varian Delta, terjadi penurunan aktifitas netralisasi yang berkaitan dengan risiko reinfeksi.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "WHO Tengah Lakukan Penyelidikan Terhadap Varian Corona 'Delta Plus'"
[Gambas:Video 20detik]