Selasa, 22 Jun 2021 11:47 WIB

Viral di Medsos, Wanita Ini Menstruasinya Mundur 11 Hari Usai Vaksin Corona

Vidya Pinandhita - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Sejumlah wanita mengeluhkan perubahan siklus menstruasi setelah vaksinasi COVID-19. Beberapanya mengeluhkan menstruasi lebih berat dengan durasi yang lebih lama, serta kram perut yang lebih hebat.

Salah satunya Devina Yo, seorang wanita berusia 26 tahun. Di media sosial, ia mengisahkan perubahan menstruasinya pasca vaksinasi COVID-19. Ia menerima vaksin dosis 1 pada 29 April dan dosis 2 pada 27 Mei 2021.

Devina rajin mencatat tanggal menstruasi menggunakan aplikasi di smartphone. Setelah divaksin, ia menyadari menstruasinya datang terlambat 11 hari disertai kram perut yang lebih hebat dibanding menstruasi sebelum divaksin.

"Aku awalnya juga tidak yakin, karena memang menstruasi dipengaruhi berbagai faktor. Tapi setelah aku pelajari, tidak ada faktor lain yang mungkin jadi pengaruh karena sedang tidak stress, capek berlebih, ataupun mengalami perubahan berat badan yang signifikan. Biasanya aku cuma terlambat 3-5 hari, tidak lebih dari itu," terangnya pada detikcom, Senin (21/6/2021).

Devina berharap, hal ini bisa dikaji dalam pencatatan untuk memastikan ada-tidaknya perubahan siklus menstruasi pasca vaksinasi COVID-19. Mengingat, besar kemungkinan para wanita tidak menyadari perubahan menstruasinya sehingga hal ini tidak dilaporkan sebagai KIPI. Selain itu menurutnya, sosialisasi penting agar masyarakat tak justru jadi ketakutan soal efek vaksin.

"Ini kurasa penting karena kemarin malah ada yang berusaha menggiring pengalamanku menjadi bagian narasi antivaksin (bisa berpengaruh pada kesuburan wanita). Kalau tidak diinformasikan dengan baik, malah bisa menambah keraguan orang untuk vaksin," katanya.

Hingga kini, perubahan siklus menstruasi tidak tercatat dalam potensi efek samping vaksin COVID-19, sehingga tidak bisa dipastikan bahwa perubahan siklus menstruasi ini disebabkan vaksinasi.

Dihubungi detikcom, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prof Hindra Irawan Satari menyebut, perubahan siklus menstruasi sebagai efek vaksin COVID-19 memang tidak ditemukan dalam uji klinik fase I, fase II, fase III, dan laporan yang masuk di Indonesia.

Bagi yang mengalami keluhan serupa, Prof Hindra menyarankan untuk periksa ke dokter kandungan. Ada banyak kemungkinan penyebab, namun sejauh ini belum ada data yang mengaitkannya dengan efek vaksin Corona.

"Tercatat sebagai KIPI namun tidak terkait dengan vaksinasi, di laporannya nggak ada, kalau ada laporan KIPI itu kan harus terkait data. Harus ada alurnya, harus ada benang merahnya, nggak bisa tiba-tiba misalnya gara-gara vaksin," kata Prof Hindra.



Simak Video "Penjelasan Pakar soal Booster Vaksin COVID-19 Tak Pakai Sinovac"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)