Rabu, 23 Jun 2021 06:55 WIB

Kapan Waktu Berjemur untuk Penderita COVID-19 yang Tepat? Ini Penjelasannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
berjemur Berjemur untuk penderita COVID-19 (Foto: shutterstock)
Jakarta -

Berjemur untuk penderita COVID-19 diyakini bisa membantu proses pemulihan. Dengan berjemur, tubuh mendapat paparan sinar matahari yang dibutuhkan untuk pembentukan vitamin D.

"Berjemur itu kan sebenarnya, pertama mungkin bisa membunuh kuman-kuman yang ada di sekitar kita. Kedua membentuk provitamin D yang ada di tubuh kita menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari," jelas dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Adria Rusli, SpP(K), Jumat (18/6/2021).

Namun, berjemur untuk penderita COVID-19 tetap harus memperhatikan risiko penularan. Pasien COVID-19 harus memperhatikan lingkungan sekitarnya, tetap menggunakan masker, dan memastikan seluruh tubuhnya terpapar sinar matahari dengan baik.

Selain itu, waktu berjemur juga harus diperhatikan. Menurut dr Adria, berjemur di pagi hari sebaiknya dilakukan sekitar pukul 07.00 atau 07.30 selama 30 menit hingga satu jam. Di saat itulah sinar matahari yang ada belum terlalu panas untuk kulit.

"Biasanya paling bagus itu setengah jam sampai satu jam. Dengan catatan jangan terlalu panas juga, nanti kulit kering, jadi dehidrasi, atau merusak kulit. Normalnya jam setengah tujuh, jam tujuh sampai setengah delapan cukuplah," katanya.

Tapi tentu saja ini bukan panduan baku. Mengingat cuaca belakangan ini sering mendung dan bahkan hujan, maka anjuran untuk berjemur sekitar pukul 07.00 atau 07.30 belum tentu bisa dilakukan.

Dokter spesialis kulit sekaligus staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R M Rendy Ariezal Effendi, SpDV, mengatakan memang tidak ada guideline yang secara spesifik bisa menentukan waktu terbaik untuk berjemur.

Di media sosial, sempat beredar anjuran untuk berjemur di atas pukul 10 pagi. Menurut dr Rendy, berjemur di atas jam 10 juga bisa saja dilakukan, tetapi bisa memberikan dampak yang buruk untuk kulit.

"Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya," ujar dr Rendy.

"Risikonya antara lain bisa flek atau tanning kalau tanpa pelindung seperti sunblock," lanjutnya.

Berjemur untuk penderita COVID-19 bisa memberikan vitamin D, yang berasal dari ultraviolet B (UVB), yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh. Tetapi, jika terlalu lama terpapar UVB bisa meningkatkan risiko kanker kulit.

"Selain itu, paparan sinar UVB yang terus menerus dan berlebihan tanpa proteksi dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari," lanjutnya.

Jadi kapan waktu berjemur untuk penderita COVID-19 yang dianjurkan?

Ada banyak faktor yang mempengaruhi mempengaruhi intensitas paparan sinar matahari, cuaca dan iklim termasuk di antaranya. Yang pasti, makin rendah intensitasi sinar matahari, maka paparan UVB akan semakin sedikit sehingga butuh waktu lebih lama untuk berjemur.

Sebaliknya jika cuaca sedang terik, paparan ultraviolet akan terlalu tinggi sehingga bisa membuat kulit terbakar. Untuk itu, disarankan untuk tidak berlama-lama berada di bawah terik matahari jika intensitas sinarnya sedang sangat tinggi.

Patokan paling ideal untuk berjemur bukan pada waktu tertentu, tetapi pada UV Index atau indeks ultraviolet. UV Index di jam yang sama pada titik yang sama bisa berubah setiap hari tergantung kondisi cuaca.

Karenanya, disarankan untuk selalu memantau perkiraan UV Index bila ingin berjemur. Selain lewat berbagai aplikasi ramalan atau prakiraan cuaca, informasi tentang UV Index juga secara rutin dibagikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Panduan UV Index untuk Rabu (23/6/2021) menurut BMKG bisa disimak sebagai berikut.

[Gambas:Instagram]







Simak Video "Yang Perlu Diperhatikan Saat Berjemur Agar Dapat Hasil Optimal"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)