Rabu, 23 Jun 2021 17:19 WIB

Ahli: Cara Terbaik Cegah COVID-19 Adalah Hindari Kerumunan

Nadhifa Sarah Amalia - detikHealth
Sultan Ingin Jogja Lockdown, Ini Kondisi Kasus Corona di Jogja Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun mengalami mutasi dan menimbulkan berbagai varian baru. Dengan mengenali varian virus COVID-19, baik yang baru maupun lama dan memahami gejala serta cara mencegah penularannya, masyarakat bisa menekan lonjakan kasus yang terjadi akhir-akhir ini di tanah air.

"Virus COVID-19 ini mudah berubah, varian of concern bagi saya itu ada dua, yakni varian Alfa (B.1.1.7) dan Delta (B.1.617). Tetapi di samping mutasi virus, terjadinya lonjakan kasus juga karena adanya kerumunan," ungkap Guru Besar Fak. Kedokteran Hewan Universitas Udayana sekaligus Anggota Tim Pakar Medis Satgas COVID-19, Prof. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, dalam keterangan tertulis, Rabu (23/6/2021).

Hal tersebut ia ungkapkan dalam Dialog Publik KPCPEN yang disiarkan FMB9ID IKP, Selasa (22/6).

"Vaksin COVID-19 sendiri sudah diteliti dan masih efektif melawan varian virus COVID-19 terutama Alfa dan Delta. Saya mendukung percepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Karena dengan 40-50% cakupan vaksinasi COVID-19 di negara-negara Eropa, mereka sudah berani mengadakan piala Eropa 2021," lanjut Prof Mahardika.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dr Hermawan Saputra menyebutkan, kondisi COVID-19 menjadi alarm bagi individu dan lingkungan sekitar supaya kita memperkuat protokol kesehatan di perkantoran, pemukiman, pusat perbelanjaan, sampai kampung di pelosok.

"Pemerintah harus mampu memberdayakan sumber daya hingga ke desa-desa untuk mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat," pesan Dr Hermawan.

Lebih lanjut, Dr. Hermawan mengimbau agar mengaktifkan gotong-royong di lingkup komunitas dan membuat ruang isolasi mandiri di tingkat komunitas.

"Ini upaya yang bisa meringankan beban rumah sakit kita yang saat ini mulai penuh terutama di pulau jawa," ujarnya.

Melihat kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini, Dr. Hermawan berpendapat cara terbaik memutus mata rantai penularan COVID-19 adalah dengan mencegahnya.

"Cara terbaik untuk mencegah penularannya adalah menghindari kerumunan," tegasnya.

Sedangkan Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Kusnandi Rusmil juga mengatakan, jika COVID-19 memiliki dampak yang sangat hebat. Inilah yang membuat masyarakat harus menghindari virus tersebut.

"COVID-19 ini sangat-sangat hebat dampaknya. Apabila kita terinfeksi virus ini, fatal akibatnya sehingga kita harus benar-benar menghindarinya. Selain kita harus disiplin menegakkan protokol 5M, maka untuk melengkapinya kita harus divaksinasi," ungkap Dr Kusnandi.

Vaksin COVID-19 menurut Dr Kusnandi dinilai sudah efektif dalam memberikan tingkat perlindungan yang diperlukan. Kalaupun terinfeksi, jika sudah mendapat vaksinasi, akan mengurangi gejala kesakitan dan risiko kematian bagi pasien COVID-19. Ia berpesan agar masyarakat jangan takut divaksinasi tapi harus takut dengan virusnya.

"Kita harus memberi pemahaman kepada masyarakat betapa jahatnya COVID-19 ini. Saya yakin dengan fakta-fakta yang sekarang ini kita tampilkan, banyaknya kesakitan dan kematian akibat COVID-19, masyarakat harus mulai sadar pentingnya protokol kesehatan dan vaksinasi," pungkas Dr Kusnandi.



Simak Video "Target 208 Juta, Jumlah Vaksinasi Dosis Lengkap Baru Capai 8 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)