Jumat, 25 Jun 2021 16:00 WIB

Melonjak! Kebutuhan Oksigen DIY-Jateng Naik 3 X Lipat

Heri Susanto - detikHealth
Kasus COVID-19 di Indonesia tengah mengalami lonjakan. Pada periode ini, kebutuhan oksigen medis ikut meningkat. Foto: Andhika Prasetia
Yogyakarta -

Kebutuhan oksigen di DIY dan Jawa Tengah mengalami peningkatan tiga kali lipat. Dalam kondisi normal sekitar 60 ribu meter kubik sampai 70 meter kubik per hari, sementara sampai pertengahan Juni lalu kebutuhan mencapai 164 ribu meter kubik per hari.

Direktur Operasional PT Samator Budi Susanto menjelaskan, untuk mencukupi kebutuhan di rumah sakit tersebut, pihaknya sampai harus mendatangkan oksigen dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Sebab, satu-satunya pabrik di Kendal, Jawa Tengah untuk DIY dan Jateng hanya mampu memproduksi 50 ribu meter kubik per hari.

"Benar apa yang disampaikan Bu Pembajun (Setianingastutie, Kepala Dinas Kesehatan DIY). Kebutuhan kita meningkat tiga kali lipat. Jika pada hari biasa normal sebelum pandemi kebutuhan kita sekitar 60 ribu meter kubik per hari sampai 70 ribu meter kubik per hari. Sampai pertengahan Juni, kebutuhan kita 164 meter kubik per hari," kata Budi, kepada wartawan saat webinar, Jumat (25/6).

Budi mengatakan, kebutuhan pada Juni ini jauh melebihi puncak kebutuhan pada Januari awal 2021 silam. Saat itu, pada puncaknya kebutuhan per hari mencapai 125 ribu meter kubik.

"Kebutuhannya jauh melebihi puncak Januari lalu sekitar 125 ribu meter kubik," katanya.

Pemenuhan kebutuhan oksigen tersebut, lanjut Budi, untuk rumah sakit tak bisa mereka kirim sesuai kapasitas 100 persen. Untuk memenuhi semua kebutuhan di rumah sakit bisa tercukupi, PT Samator bekerjasama dengan Dinkes membuat skala prioritas.

"Jadi jika biasanya kami kirim 100 persen, sekarang hanya 40 persen sampai 60 persen (tiap rumah sakit dari kapasitas). Kami alihkan ke rumah sakit yang lain yang lebih membutuhkan. Jika masih memiliki stok dalam tiga sampai empat jam, kami alihkan ke rumah sakit yang lebih mendesak," jelasnya.

Dengan skema tersebut, menurut Budi, kebutuhan oksigen di DIY khususnya sudah mulai normal. Meski, stok yang tersedia di rumah sakit memang hanya hitungan per jam. Akan tetapi, dengan skema tersebut, minimal membuat oksigen di rumah sakit terpenuhi.

"Kami dalam proses transfer dari truk besar (17 ribu meter kubik) ke truk kecil (3.500 meter kubik) ini di kantor cabang (di Ring Road Utara). Karena untuk transfer ini membutuhkan lahan yang luas dan listrik minimal 20 ribu watt," ungkapnya.



Simak Video "Kebutuhan Oksigen untuk Pasien COVID RI Tembus 2.000 Ton per Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)