Sabtu, 26 Jun 2021 10:00 WIB

Pengobatan Skoliosis Bersama Dokter Phedy, Konsultan Tulang Belakang

Sponsored - detikHealth
dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine Foto: Eka Hospital-dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine
Jakarta -

Mengenal Skoliosis

Setiap tahunnya, bulan Juni diperingati sebagai Scoliosis Awareness Month atau Bulan Kepedulian Skoliosis. Mungkin bagi sebagian orang, istilah skoliosis masih terdengar awam. Lalu, sebenarnya apakah skoliosis itu?

Menurut dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine dari Eka Hospital BSD, skoliosis merupakan kondisi tulang belakang yang tidak normal karena berbentuk melengkung seperti huruf C atau S.

"Biasanya skoliosis ditemukan pada usia pubertas yaitu usia 10 sampai dengan 18 tahun dan secara umum, wanita lebih rentan mengidap skoliosis dibandingkan pria," jelas dr. Phedy dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6/2021).

Apa Penyebab Skoliosis?

Ada 4 faktor yang dapat menyebabkan skoliosis, salah satunya faktor yang disebabkan oleh genetik yang disebut skoliosis idiopatik. Menurut dr. Phedy jenis skoliosis ini paling banyak diderita. Lain lagi dengan kondisi yang disebabkan karena kerusakan bantalan dan tulang belakang yang aus seiring pertambahan usia yang disebut skoliosis degeneratif.

Kondisi rusaknya jaringan saraf dan otot yang menyebabkan kelengkungan tulang belakang disebut dengan skoliosis neuromuscular. Sedangkan, skoliosis kongenital terjadi karena pertumbuhan tulang belakang yang tidak normal ketika masih di dalam kandungan. Lalu, mengapa seseorang bisa mengidap skoliosis?

"Tentunya ada beberapa gejala yang dapat dilihat sehingga seseorang dapat didiagnosa mengidap skoliosis. Misalnya, apakah tubuh penderita condong ke satu sisi, salah satu bahu lebih tinggi, salah satu tulang belikat lebih menonjol, atau tinggi pinggang yang tidak rata," tutur dr. Phedy.

Namun, penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan sendirinya tanpa bantuan dokter spesialis tulang. Pasalnya, dokter akan melakukan pengecekan lebih detail dan rinci dari gejala yang dialami oleh pasien serta pemeriksaan secara fisik seperti meminta pasien berdiri, membungkuk dan melihat seberapa tingkat keparahan postur tubuh yang tidak simetris.

Selain itu, dokter akan memeriksa apakah ada otot dan saraf yang lemah, kaku, atau adanya refleks yang tidak normal. Melalui pemeriksaan fisik yang didukung oleh foto rontgen dan CT scan, nantinya akan terlihat secara jelas lengkungan tulang belakang yang diderita.

dr. Phedy, Sp.OT (K) SpinePengobatan Skoliosis Bersama Dokter Phedy, Konsultan Tulang Belakang Foto: Eka Hospital

Dr. Phedy menjelaskan bahwa seseorang yang mengidap skoliosis dapat diobati dengan beberapa cara seperti observasi yang dilakukan pada skoliosis ringan karena tidak memerlukan pengobatan khusus. Pasien dianjurkan melakukan exercise untuk melenturkan dan menguatkan otot punggung.

Berikutnya, dengan melalui metode Orthosis (brace) yang diindikasikan pada skoliosis dengan kelengkungan antara 35-45 derajat dan tulang yang belum matang pertumbuhannya. Pada kondisi tulang yang sudah matang, atau kelengkungan lebih 45 derajat, brace tidak banyak berguna. Terakhir adalah melalui tindakan Operasi yang dilakukan bila kelengkungan skoliosis lebih dari 45 derajat.

Apakah Operasi pada Pengidap Skoliosis Berbahaya?

Operasi skoliosis adalah operasi besar pada tulang belakang dengan risiko kematian dan kelumpuhan. Namun, dengan perkembangan teknologi saat ini, risiko kematian dan kelumpuhan tersebut dapat ditekan bahkan hingga mendekati 0 persen.

Saat ini telah tersedia alat navigasi dan robotic spine yang berfungsi memandu dokter bedah dalam memasukkan screw pada saat operasi. Akurasi navigasi dan robotik dalam memasukkan screw diklaim mencapai 99.9%. Selain itu, alat navigasi dan robotik ini memungkinkan operasi skoliosis dengan teknik minimal invasif atau operasi dengan luka sayatan yang lebih kecil dan risiko pendarahan yang lebih sedikit sehingga dapat mengurangi kebutuhan transfusi darah. Saat ini juga telah tersedia alat monitoring saraf yang dapat memantau kondisi saraf selama operasi berlangsung.

Lebih lanjut dr. Phedy menjelaskan bahwa penyakit skoliosis dapat disembuhkan tergantung tingkat keparahan dan gejala yang dirasakan oleh penderita. Sehingga penting untuk melakukan pengecekan sedari dini sehingga tindakan akan dilakukan secara cepat dan tepat. Hubungi dokter spesialis tulang bila Anda merasakan gejala skoliosis.

Profil Dokter Phedy

Dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine adalah Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi, Konsultan Tulang Belakang Eka Hospital BSD. Beliau menempuh pendidikan Kedokteran Umum, Spesialis Ortopedi dan Konsultan Tulang Belakang di Universitas Indonesia Jakarta.

Beliau juga aktif menjadi pembicara dan instruktur di berbagai seminar dan workshop baik di tingkat nasional maupun internasional. Beliau juga memiliki banyak penghargaan dan beberapa kali memenangkan Indonesian Orthopaedic Investigator Award.

Dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine memiliki keahlian dalam menangani berbagai masalah pada tulang belakang seperti nyeri punggung, nyeri leher, syaraf terjepit, infeksi tulang belakang dan kelainan bentuk tulang belakang baik dengan teknik konvensional maupun dengan teknik minimal invasif. Beliau pun memiliki ketertarikan khusus untuk kelainan bentuk tulang belakang terutama untuk skoliosis dan kifosis.

Pendidikan dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine

- Medical Doctor, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia

- Orthopedic, Department of Orthopaedic dan Traumatology, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia

- Spine Fellowship, Department of Orthopaedic and Traumatology, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia

- Spine fellowship, Chung Nam University Hospital, Daejon, South Korea

- eccElearning Diploma in Spine Surgery, Europe

(Content Promotion/Eka Hospital)