Senin, 05 Jul 2021 11:37 WIB

Long COVID Kerap Dialami Pasien Corona Pasca Sembuh, Apa Penyebabnya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Ilustrasi pasien COVID-19. (Foto: iStock)
Jakarta -

Para ilmuwan mengklaim virus Corona bisa mengubah sel darah yang mempersulit oksigen untuk mengalir ke seluruh tubuh. Penelitian baru ini juga bisa menjelaskan penyebab banyaknya pasien yang mengalami Long COVID selama berbulan-bulan, sejak pertama kali terinfeksi.

Long COVID merupakan kondisi di mana pasien mengalami gejala COVID-19 yang berkepanjangan meski sudah sembuh. Beberapa gejala Long COVID yang dialami seperti kelelahan dan sakit kepala.

Berdasarkan hasil analisis pada 55 pasien, para ilmuwan menemukan bahwa gangguan aliran oksigen adalah penyebab sebagian besar kasus Long COVID yang dialami pasien COVID-19.

Selama penelitian tersebut, para peneliti mengamati pasien COVID-19. Mereka menemukan bahwa virus Corona telah mengubah kekakuan sel darah merah dan putih. Akibatnya, nutrisi lebih sulit diproses tubuh dan pasien COVID-19 sulit mendapatkan oksigen.

Para ahli dari Max Planck Center for Physics and Medicine di Jerman mengatakan kondisi ini harusnya sudah pulih setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit dan dinyatakan sembuh. Tetapi, beberapa pasien masih mengalami masalah yang sama hingga 14 bulan setelah keluar dari rumah sakit. Kondisi itulah yang disebut dengan Long COVID.

Untuk mendapat jawabannya, para ahli ini memeriksa sel darah dari 17 pasien yang sakit akut akibat virus Corona yang berusia antara 41-87 tahun. Mereka juga melihat data dari 14 orang yang berusia 27-76 tahun yang sudah sembuh dari COVID-19, dan 24 orang yang berusia 26-81 yang tergolong sehat.

Dikutip dari The Sun, para ahli pun mengukur bentuk dan ukuran sel darah merah serta putih pada para relawan. Hasilnya, mereka menemukan adanya perbedaan bentuk serta ukuran dari sel darah putih dan merah pada pasien COVID-19.

Kondisi inilah yang membuat oksigen sulit tersalurkan ke seluruh tubuh. Para ahli juga mengatakan, jika perubahan ini terus terjadi, bisa menyebabkan gejala Long COVID pada pasien Corona yang sudah sembuh.

"Hasilnya, 70 persen orang mengalami sakit kepala kronis atau gejala neurologis, 54 persen mengalami gangguan konsentrasi, dan 63 persen mengalami masalah peredaran seperti keringat dingin dan takikardia," jelas para peneliti yang dikutip dari The Sun, Senin (5/7/2021).

"Kami berhipotesis bahwa perubahan fenotipe fisik sel darah yang terus-menerus bisa berkontribusi pada gangguan sirkulasi jangka panjang dan pengiriman oksigen yang terkait dengan COVID-19," lanjutnya.

Sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa sel besar atau megakariosit mengambil ruang dan menyisakan lebih sedikit ruang bagi darah untuk melewati otak pada pasien COVID-19.

Melihat ini, profesor patologi di Fakultas Kedokteran Johns Hopkins University, David Nauen, mengatakan ini bisa menjadi kunci untuk memahami bagaimana virus Corona mempengaruhi otak.

"Perubahan aliran darah dalam sistem yang memberikan oksigen secara tepat berdasarkan waktu dan kebutuhan bisa menyebabkan gangguan fungsi kognitif, seperti gambaran kabut otak," pungkasnya.



Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)