Selasa, 13 Jul 2021 09:08 WIB

Ilmuwan Ini Yakin Banget COVID-19 Bukan dari Kelelawar, Trus dari Mana Dong?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya. Foto: Ian Waldie/Getty Images.
Jakarta -

Asal usul COVID-19 belum juga terkuak, sebuah studi yang dilakukan para pakar di Tel Aviv University's Bat Lab menyebut kemungkinan besar COVID-19 tak ada kaitannya dengan kelelawar. Hal tersebut berdasarkan pengamatan perilaku kelelawar dalam analisis studi mereka.

"Sampai sekarang tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan antara kelelawar dan COVID-19," kata Weinberg, pemimpin studi tersebut kepada The Media Line.

Studi yang dimuat di Annals of the New York Academy of Science menemukan perilaku kelelawar yang sakit cenderung menjaga jarak. Mereka memantau dua koloni kelelawar buah, satu kelelawar tinggal di penangkaran kandang, sementara satu lainnya di habitat asli mereka.

Peneliti menyuntikkan protein seperti bakteri ke beberapa kelelawar di setiap koloni yang bisa memicu respons imun, dan menimbulkan gejala dari suatu penyakit. Apa hasilnya?

"Kami sangat terkejut melihat kelelawar yang sakit secara aktif menjaga jarak sosial," kata Weinberg.

"Kami mengira bahwa kelompok itu yang akan menjauhi kelelawar yang sakit, tetapi justru kelelawar yang sakit yang secara aktif menjauh dari koloni yang lain. Ini benar-benar bukan perilaku khas hewan liar, yang biasanya berusaha menyembunyikan penyakitnya."

Meski asal usul Corona masih menjadi misteri, dugaan atau spekulasi virus Corona sengaja dibuat di laboratorium Wuhan juga kerap muncul. Namun, Institut Virologi Wuhan membantah keras teori ini.

Meski begitu, Weinberg percaya ada kemungkinan ilmuwan yang berkelana jauh ke 'alam liar' China untuk mengumpulkan sampel virus mungkin tanpa disadari melepaskan virus tersebut.

"Selama kita menjaga jarak dari kelelawar dan membiarkan mereka tetap berada di habitat alami mereka yang terpencil, maka kita tidak akan mengekspos diri kita pada patogen yang tidak kita miliki pertahanannya," jelas Weinberg.

Ahli biologi lain juga memeriksa biomekanik kelelawar, termasuk penggunaan ekolokasi dan sinar sonar. Ofri Eitan dan timnya sedang melakukan eksperimen perilaku kelelawar di dalam ruang anechoic, ruangan yang dirancang untuk menyerap pantulan suara.

"Di ruang penerbangan ini kami menggunakan dua metode yang dapat membantu kami memahami perilaku sensorik kelelawar," kata Eitan kepada The Media Line.

"Dua teknik ini adalah pelacakan gerak dan perekaman ekolokasi kelelawar."

Ruangan tersebut dilengkapi 50 mikrofon ultrasonik dan sistem yang melacak gerakan kelelawar saat terbang. Tujuannya, untuk mengamati perilaku sensorik hewan dan mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana habitat kelelawar di lingkungan mereka.

Hasilnya senada dengan Weinberg, Eitan setuju jika kelelawar tidak ada hubungannya dengan pandemi COVID-19.

"Kami mencoba menunjukkan bahwa kelelawar adalah makhluk yang jauh lebih luar biasa daripada yang mereka kira," katanya.

Sementara peneliti lainnya, Adi Rachum, tengah mempelajari tempat puluhan kelelawar buah datang dan pergi dengan secara intens memberi mereka makan di sebuah ruangan yang gelap, lembap, dan menyerupai gua. Tujuannya ialah untuk meniru lingkungan alami hewan, sedekat mungkin, sambil memungkinkan para ilmuwan melakukan penelitian.

Ada beberapa kamera yang tersebar di seluruh gua, termasuk umpan langsung yang dapat diakses online 24 jam.

"Saya memasang chip pada setiap kelelawar yang kami lepaskan," kata Rachum kepada The Media Line sambil mengangkat kelelawar untuk diperiksa.

"Itu tidak menyakiti mereka dan membantu kami untuk mengidentifikasi mereka secara definitif, sehingga bisa membantu penelitian kami," sambungnya.

Weinberg, seorang dokter kedokteran hewan yang khusus meneliti kelelawar selama 12 tahun terakhir, berharap penelitian di lab yang tengah berlangsung pada akhirnya akan membantu meyakinkan orang jika kelelawar tidak perlu ditakuti.

"Mereka adalah hewan yang sangat lembut, mudah bergaul, dan komunikatif," katanya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)