Selasa, 13 Jul 2021 20:58 WIB

Menkes: Jika Lonjakan COVID-19 Berlanjut, DKI-Yogyakarta Paling 'Berat'

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta (DIY), kehabisan stok oksigen pada Sabtu (3/7). Akibatnya, 33 pasien dilaporkan meninggal dunia Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Jakarta -

Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia masih berlanjut sampai saat ini. Kondisi ini meningkatkan beban layanan rumah sakit di beberapa provinsi.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan jika laju kasus terus meningkat, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta akan mengalami dampak paling berat. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan skenario yang dibuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jika kasus COVID-19 naik 30-60 persen dalam beberapa pekan ke depan.

"Kalau (laju kasus COVID-19) memburuk 30 persen dalam seminggu hingga dua minggu ke depan, yang berat Yogyakarta dan DKI Jakarta," kata Menkes Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (13/7/2021).

Berdasarkan data yang dipaparkan Menkes jika kasus COVID-19 naik 30 persen, DKI Jakarta membutuhkan 4.664 tempat tidur isolasi dan 4.488 tempat tidur perawatan intensif. Sementara Yogyakarta membutuhkan 1.489 tempat tidur isolasi dan 734 tempat tidur intensif.

Jika kasus naik 60 persen, Jakarta membutuhkan hingga 10.299 tempat tidur isolasi dan 5.880 tempat tidur perawatan intensif. Masih dengan skenario yang sama, Yogyakarta membutuhkan 2.308 tempat tidur isolasi dan 939 tempat tidur perawatan intensif.

Meski begitu, menurut Menkes kondisi di Yogyakarta masih bisa diakali dengan mengkonversi tempat tidur perawatan lain untuk pasien COVID-19. Tapi, ini tidak bisa dilakukan untuk DKI Jakarta.

"Hal itu berbeda dengan Jakarta, karena Jakarta yang sudah dikonversi sudah lebih dari 50 persen. Itu yang kemudian kita butuh strategi berbeda," jelas Menkes.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Untuk mengatasi ini, Menkes mengungkapkan ada tiga strategi yang bisa dilakukan untuk menanggulangi krisis kapasitas rumah sakit ini, yaitu:

  • Mengonversi lagi jumlah tempat tidur perawatan lain untuk COVID-19.
  • Mengalihkan rumah sakit khusus untuk COVID-19.
  • Menambah rumah sakit lapangan atau darurat.

Menurut Menkes, strategi-strategi tersebut sudah dilakukan di DKI Jakarta dan terus diupayakan agar bisa menutup kebutuhan yang diproyeksikan dalam beberapa waktu ke depan.



Simak Video "Data Statistik: 80% Gejala Ringan, Jadi Alasan Kemenkes Minta Warga Isoman di Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)