Rabu, 14 Jul 2021 12:30 WIB

Long Covid Kerap Dialami Penyintas Corona, Apa Sih Pemicunya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Ilustrasi pasien long Covid. (Foto: iStock)
Jakarta -

Para peneliti dari Imperial College London mengklaim telah mendeteksi ketidakteraturan dalam darah pasien yang mengalami long Covid. Mereka menemukan pola antibodi jahat di dalam darah pada sejumlah kecil orang yang mengalami long Covid.

Mereka berharap bisa menemukan cara untuk mengetahui kondisi tersebut. Salah satunya dengan tes darah sederhana dalam waktu enam bulan hingga 18 bulan.

"Mungkin ada sejumlah hal berbeda yang terjadi setelah infeksi COVID-19, dan respons autoimun menjadi salah satu mekanisme yang dicurigai," kata Dr Elaine Maxwell dari National Institute of Health Research yang dikutip dari BBC, Selasa (13/7/2021).

Namun, Dr Maxwell memperingatkan bahwa long Covid adalah 'kondisi yang kompleks' dan belum ada tes yang bisa mendiagnosisnya. Maka dari itu penting untuk terus meneliti faktor-faktor penyebab lainnya, sehingga semua jenis sindrom pasca-Covid bisa didiagnosis dan diobati.

Sampai saat ini, fenomena long Covid masih belum sepenuhnya dipahami. Kondisi itu bisa mencangkup berbagai gejala COVID-19 yang berlangsung dalam waktu yang lama pasca infeksi awal, seperti kelelahan, sesak napas, sakit kepala, dan nyeri otot.

Temuan para peneliti

Dalam sebuah studi percontohan, para peneliti membandingkan darah dari puluhan orang dan menemukan autoantibodi yang tidak ada pada orang yang pulih dari COVID-19 atau mereka yang belum pernah terinfeksi Corona.

Biasanya, sistem kekebalan manusia akan membuat antibodi untuk melawan penyakit. Tetapi, terkadang tubuh malah menciptakan autoantibodi yang menyerang sel-sel sehat.

Melihat hal ini, Prof Danny Altmann yang memimpin penelitian tersebut percaya bahwa antibodi ini mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya gejala long Covid.

Menurutnya, kondisi ini mungkin disebabkan karena beberapa orang masih memiliki virus yang bertahan di tubuh mereka. Sementara yang lainnya mungkin memiliki masalah lain dengan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan long Covid itu terjadi.

Penelitian ini masih dalam tahap awal yang baru dilakukan dalam sampel yang kecil dan dapat ditingkatkan lagi nantinya. Meski begitu, Prof Altmann mengatakan ini bisa menjadi gambaran dari terobosan untuk mencapai kemajuan yang menarik.

Long Covid ini bisa menyerang orang dari segala usia, termasuk anak-anak dan mereka yang belum sehat sepenuhnya. Selain itu, kondisi ini juga bisa menyerang mereka yang hanya mengalami gejala COVID-19 yang ringan.

Lalu, apakah dengan vaksinasi COVID-19 bisa mencegah munculnya kondisi long Covid? Berikut penjelasannya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]