Kamis, 15 Jul 2021 17:28 WIB

Bisa Beda Hasil Seperti Gibran, Kapan Sebaiknya Tes PCR atau Cukup Antigen?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat jumpa pers virtual, Rabu (14/7/2021). Foto: Ari Purnomo/detikcom
Jakarta -

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka dinyatakan positif COVID-19. Ia menceritakan, sempat melakukan tes antigen dengan hasil negatif. Namun ketika tes ulang dengan swab PCR, hasilnya positif.

"Saya kan rutin antigen, dan kebetulan kemarin antigen saya negatif. Tetapi, saya tidak percaya dengan hasil itu kemudian saya suruh teman dari RSBK (Bung Karno) untuk PCR dan hasilnya positif," terang Gibran dalam jumpa pers virtual, Rabu (14/7/2021).

Lantas, benarkah PCR bisa mendeteksi virus Corona pada tubuh secara lebih akurat? Apakah berarti, tes antigen tidak sebaik PCR untuk memeriksa suspek pasien COVID-19?

Ahli patologi klinik Universitas Sebelas Maret dr Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD, FISQua meluruskan, antigen atau PCR (polymerase chain reaction) sama-sama boleh digunakan untuk memeriksa mendeteksi virus Corona.

Namun lantaran PCR lebih sensitif membaca virus dalam jumlah yang masih sedikit, misalnya pada orang yang baru terpapar virus Corona dari kontak erat, PCR menjadi standar baku pemeriksaan.

"Antigen itu memeriksa protein virus, sementara PCR itu memeriksa RNA virus. Dasarnya itu dulu. Terus kedua-duanya dapat digunakan untuk mendeteksi virus pada tempatnya masing-masing," terang dr Tonang pada detikcom, Kamis (15/7/2021).

"Dalam konteks Indonesia saat ini digunakan sebetulnya pada prinsipnya PCR itu memang yang baku standar sebetulnya. Sedangkan dalam kondisi terpaksa tidak dapat mengakses PCR, itu kita bisa gunakan antigen," lanjutnya.

Pada hari keberapa virus Corona bisa terdeteksi?

Dengan perbedaan kemampuan tersebut, antigen dan PCR membutuhkan waktu berbeda untuk bisa mendeteksi virus. Diperkirakan, PCR bisa membaca virus 3 hari setelah seseorang terpapar, sedangkan antigen baru bisa mendeteksi dalam waktu 4-5 hari.

"Memang PCR itu lebih sensitif daripada antigen, itu benar. PCR bisa mendeteksi virus ketika jumlah virus lebih sedikit daripada yang dapat dideteksi oleh antigen. Ketika PCR sudah bisa mendeteksi dalam jumlah virus kecil, antigen belum bisa. Tapi ketika virus bertambah antigen baru bisa mendeteksi," beber dr Tonang.

"Di awal infeksi memang jumlah virus terus berkembang dari sedikit dia bergerak cepat. Maka ketika orang itu terinfeksi pada hari Senin misalnya, maka sebenarnya PCR itu bisa mendeteksi paling cepat hari Kamis. Kemudian antigen itu secara mudah ya, akan paling cepat hari jumat. Keduanya akan memiliki akurasi tertinggi pada hari Sabtu sebetulnya," pungkasnya.

Demi keamanan, orang yang habis melakukan kontak erat perlu melakukan tes, termasuk yang tak mengalami gejala apa pun. Sembari menunggu hasil, pastikan karantina dilakukan untuk menekan risiko penularan virus Corona.



Simak Video "Kok Bisa Harga PCR Covid-19 di India Cuma Rp 100 Ribuan?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)