Kamis, 22 Jul 2021 12:30 WIB

Paket Obat Isoman Gratis Susah Didapat? Sama, Pasien Ini Juga Mengalami

Vidya Pinandhita - detikHealth
Petugas menyiapkan obat COVID-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021). Mulai hari ini, Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/hp. Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Sejumlah pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) mengeluh tak kunjung dapat notifikasi WhatsApp dari Kementerian Kesehatan terkait paket obat gratis. Padahal, mereka sudah melakukan pemeriksaan PCR di laboratorium yang terafiliasi dengan Kemenkes, sebagaimana yang disyaratkan.

Misalnya, dialami oleh Alief, pria asal Depok, Jawa Barat. Dinyatakan positif berdasarkan tes PCR pada 15 Juli 2021, Alief tak kunjung dikirim paket obat gratis Kemenkes hingga hari ini.

Saat konfirmasi ke tempatnya melakukan tes PCR, data pasien sudah direkap dan dikirim ke Kemenkes. Alief diarahkan untuk menanyakan lebih lanjut ke pihak Kemenkes. Namun saat ia mengecek situs layanan telemedicine isoman COVID-19, NIK-nya tak terdaftar.

"Tanggal 14 (Juli 2021) nyoba PCR di RSUI (RS Universitas Indonesia), keluar hasil tanggal 15. Obat gratis yang telemedicine itu juga nggak dapat. Padahal cek di RSUI, salah satu lab terafiliasi," ujarnya saat dihubungi detikcom, Kamis (22/7/2021).

Pindah 'jalur' ke Pikobar

Berkat informasi yang Alief peroleh dari temannya, ia berinisiatif mengisi form Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) pada 16 Juli 2021. Dari sanalah ia akhirnya mendapat sebungkus paket berisi 4 strip vitamin pada 20 Juli 2021. Hanya vitamin, tanpa obat-obatan meski Alief mengalami gejala demam, pusing, dan pegal-pegal.

"Ya aku sih berharapnya di dalam paket obat itu ada obat. Walaupun memang belakangan, katanya (obat) nggak terlalu penting. Bahkan teman dan dokter di komplek aku juga bilang, oseltamivir nggak terlalu penting," ujar Alief.

"Cuma kan sebagai pasien yang baru terpapar, pada saat itu panik nih. Obat mana saja yang boleh," lanjutnya.

Sebelumnya, detikcom juga sempat mendapat laporan dari pasien COVID-19 isoman di Bandung. Sama seperti kisah Alief, pasien asal Bandung ini tak diminta menyebutkan ada atau tidaknya gejala dalam form Pikobar. Tiba-tiba, ia dikirimi paket berisi vitamin.

"Kalau itu awal isi form cuma isi data sama lampirin hasil lab, terus habis itu dapat email di keterangannya emang ada 2 opsi paket obat yang bisa didapat (A sama B). Kalau aku tiba-tiba sudah dapet yang A saja tanpa ada kita jelasin keterangan gejala yang dirasa," ujar sang pasien.

"Malah lebih enak kalau kita konsultasi ke Puskesmas sih, jadi kita cerita gejala yang dirasa apa saja. Kalau aku kan suka sakit kepala jadi dikasih obat meski Paracetamol saja. Sisanya vitamin C juga," lanjutnya.



Simak Video "Perlukah Tes COVID-19 Ulang Usai 14 Hari Isoman?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)