Jumat, 23 Jul 2021 11:05 WIB

Studi Baru Beri Sinyal Kuat Asal-usul COVID-19, Bukan dari China?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. Foto: Getty Images
Jakarta -

Asal usul Corona masih menjadi perdebatan para ahli. Kini, tes sampel darah yang baru dianalisis di Italia kembali memicu dugaan apakah virus Corona benar menyebar lebih dulu di Eropa, bukan di Wuhan, China.

Dikutip dari Financial Times, para ilmuwan dari Istituto Nazionale Tumori Milan dalam jurnal baru yang dimuat Senin kemarin, menunjukkan pengujian ulang sejumlah sampel darah pra-pandemi di dua laboratorium. Ditemukan antibodi yang biasanya muncul setelah terinfeksi virus Corona.

"Hasil pengujian ulang ini menunjukkan bahwa apa yang kami laporkan sebelumnya pada pasien tanpa gejala adalah sinyal yang masuk akal jika sirkulasi awal virus (COVID-19) ada di Italia," Giovanni Apolone, salah satu peneliti, mengatakan kepada Financial Times.

"Jika ini dikonfirmasi, ini akan menjelaskan ledakan kasus simtomatik yang diamati di Italia (pada 2020). SARS-CoV-2, atau versi sebelumnya, beredar diam-diam, di bawah permukaan," katanya.

Temuan antibodi virus Corona

Para peneliti mulanya menganalisis 959 pasien kanker paru-paru sebelum pandemi COVID-19 merebak. Tahun lalu, mereka menguji sampel lagi, mencari antibodi terkait virus Corona, dan mengatakan mereka telah menemukan jejak infeksi.

Atas permintaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sampel tersebut diuji ulang oleh laboratorium VisMederi di Siena, Italia, dan fasilitas yang berafiliasi dengan WHO di Universitas Erasmus di Belanda.

Marion Koopmans, kepala virologi di Erasmus, mengatakan temuan baru itu 'menarik'. Namun, dia memperingatkan bahwa meskipun ada beberapa bukti antibodi, tidak ada sampel yang memberikan bukti konklusif tentang infeksi sebelumnya dengan COVID-19, berdasarkan kriteria ketat universitas.

"Kami menggunakan ambang batas yang agak ketat dan tidak dapat mengesampingkan bahwa beberapa reaktivitas yang diamati adalah nyata," katanya.

"Namun, untuk konfirmasi sirkulasi sebelumnya, kami akan merekomendasikan penelitian pasien dengan penyakit yang tidak dapat dijelaskan untuk konfirmasi virologi."

Bagaimana kelanjutan hasil studi? Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]