Jumat, 23 Jul 2021 17:30 WIB

Jejak Kontroversi Vaksin Nusantara Besutan Eks Menkes Terawan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth

Pemerintah diminta setop uji vaksin Nusantara

Desakan menyetop uji vaksin Nusantara salah satunya datang dari ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. Ia menyoroti adanya risiko vaksin terkontaminasi dengan mikroba penyebab infeksi, karena dibuat secara personal yang bisa saja pembuatannya tidak memenuhi standar.

"Jadi, sebenarnya sel dendritik untuk terapi bersifat individual. Dikembangkan untuk terapi kanker, sehingga tidak layak untuk vaksinasi massal," kata Pandu, dalam siaran pers yang dilihat detikcom, Sabtu (20/02/2021).

Tak bisa lanjut Fase II

Kajian BPOM soal uji klinis Fase I vaksin Nusantara diungkap dalam rapat kerja bersama komisi IX DPR RI, Rabu (10/3/2021). Mulai dari tidak adanya komite etik, kaidah riset tidak sesuai standar, tidak adanya uji klinis pada hewan, dan manfaat atau khasiat dari vaksin Nusantara dinilai belum terlihat. Hal ini yang kemudian menjadi catatan vaksin Nusantara tak bisa lanjut Fase II, selama belum ada perbaikan.

"Di dalam penelitian ini juga ada profil khasiat vaksin yang jadi tujuan sekunder yang harus dijawab, karena bukan hanya aspek keamanan saja ya tapi juga ada di dalam tujuan sekunder tersebut adalah di mana juga penelitian ini harus menunjukkan profil khasiat vaksin yang menjadi tujuan sekunder," jelas Kepala BPOM Penny K Lukito.

Meski pada akhirnya BPOM menawarkan hearing dengan para peneliti, terkait catatan di uji klinis pertama, para peneliti vaksin dendritik tidak kunjung memperbaiki masalah yang disoroti BPOM.

Klaim vaksin anak bangsa dibantah

BPOM membantah klaim vaksin Nusantara merupakan karya anak bangsa. Pasalnya, banyak peneliti yang terlibat berasal dari Aivita Biomedical, perusahaan yang menyokong riset vaksin dendritik. Sementara, bahan utama vaksin Nusantara juga banyak berasal dari Aivita.

"Apakah ini kita sebut vaksin karya anak bangsa atau bukan? Karena pertama komposisi dari darah yang diambil, kemudian mendapatkan sel dendritik, kemudian ditambahkan antigen growth factor, komponen-komponennya adalah produk impor yang mahal," kata Penny.

"Kedua siapa yang meneliti? Dalam uji klinis fase 1 ini pembahasannya tim peneliti asinglah yang menjelaskan, membela, dan berdiskusi pada saat kita hearing tersebut. Terbukti dari proses pelaksanaan uji klinis, produksinya, semua dilaksanakan oleh tim peneliti asing dari AIVITA," lanjutnya.

Ramai-ramai suntik vaksin Nusantara

Banyak pihak yang tak menerima vaksin Nusantara tak kunjung mendapat izin dari BPOM lantaran sejumlah temuan uji klinis yang tidak sesuai kaidah. Mereka kemudian ikut melakukan proses penyuntikan vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto April lalu.

Mulai dari Komisi IX DPR RI, tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Anang Hermansyah dan Ashanty hingga Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Adapula eks Menteri Kesehatan Siti Fadillah.

"Maka saya bersedia menjadi relawan karena saya menghargai seorang peneliti yang berpikiran beda dengan yang lainnya," kata Siti dalam keterangan tertulis dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (16/4/2021).

Selanjutnya
Halaman
1 2 3