Jumat, 23 Jul 2021 20:00 WIB

Heboh Klaim 'Diakui Dunia', Ini 7 Fakta Vaksin Nusantara dr Terawan

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota DPR Dewi Asmara saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Rapat yang juga diikuti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy itu membahas penanggulangan defisit dana jaminan sosial BPJS Kesehatan dan perbaikan tata kelola sistem layanan kesehatan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Jakarta -

Viral narasi vaksin Nusantara diakui dunia. Vaksin Corona besutan eks Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto ini disebut telah diakui dunia karena sudah dimuat dalam jurnal internasional PubMed.

Dalam webinar yang diselenggarakan RSPAD Gatot Soebroto, Terawan menyebut seluruh dunia tengah membicarakan vaksin Nusantara sebagai 'the beginning of the end' dari penyakit COVID-19, pandemi yang saat ini melanda dunia.

Klaimnya ini menyebut sel dendritik yang menjadi bahan baku pembuat vaksin Nusantara telah banyak dibicarakan sebagai salah satu upaya menyelesaikan pandemi COVID-19.

Terkait klaim ini, peneliti vaksin dan dokter biokimia dari Universitas Adelaide Australia dr Ines Atmosukarto menegaskan bahwa vaksin yang dimuat dalam jurnal internasional tidak serta merta berarti mendapat pengakuan. Yang dimuat adalah hasil penelitiannya.

"Jadi sifatnya spekulatif tidak didukung pembuktian," kata dr Ines, dikutip dari turnbackhoax.

Disebutkan hingga saat ini, belum ada sumber informasi yang valid bahwa vaksin Nusatara telah disetujui baik di Indonesia maupun dunia. Beberapa vaksin COVID-19 yang 'diakui dunia' atua masuk daftar emergency use listing WHO adalah vaksin Pfizer, vaksin Moderna, vaksin Sinopharm, vaksin Sinovac, vaksin AstraZeneca.

Sejak kemunculannya, vaksin Nusantara memang penuh kontroversi. Berikut adalah beberapa fakta mengenai vaksin Nusantara sejak awal kemunculannya.

1. Sebelumnya dinamai vaksin 'Joglosemar'

Vaksin Nusantara pertama kali muncul dengan nama 'Joglosemar' Pada Desember 2020. Vaksin ini digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc, perusahaan asal AS selaku pemasok teknologi dendritik.

Masih membawa klaim keunggulan yang sama, yakni penggunaan basis sel dendritik pertama di dunia yang nilai plusnya, bisa menciptakan antibodi seumur hidup. Penelitian vaksin Nusantara didukung pembiayaan oleh Badan Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kemenkes.

2. Tim peneliti UGM mundur

Di awal Maret 2021, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengajukan pengunduran diri dari tim penelitian uji klinis vaksin Nusantara.

Wakil Dekan FKKMK UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan, dr Yodi Mahendradhata mengatakan, pihaknya telah mengajukan surat pengunduran diri kepada Menteri Kesehatan karena para peneliti sejauh ini tidak dilibatkan dalam proses uji klinis, termasuk dalam penyusunan protokol penelitian vaksin nusantara.

"Belum ada keterlibatan sama sekali. Kita baru tahu saat itu muncul di media massa bahwa itu dikembangkan di Semarang kemudian disebutkan dalam pengembangannya melibatkan tim dari UGM," katanya melalui keterangan tertulis dari Humas UGM, Senin (8/3/2021).

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Potret Moeldoko Saat Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan"
[Gambas:Video 20detik]