Minggu, 25 Jul 2021 08:05 WIB

Terpopuler

Peringatan Keras BPOM Soal Ivermectin: Dilarang Promosi!

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ivermectin is not a brand name: it is the generic term for the drug. Ilustrasi Ivermectin (Foto: Getty Images/iStockphoto/RapidEye)
Jakarta -

Kontroversi obat antiparasit Ivermectin masih terus berlanjut. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini mengingatkan bahwa industri farmasi tidak diperbolehkan mempromosikan obat keras tersebut.

"Ditekankan kepada Industri Farmasi yang memproduksi obat tersebut dan pihak manapun untuk tidak mempromosikan obat tersebut, baik kepada petugas kesehatan maupun kepada masyarakat," tulis BPOM soal Ivermectin, Rabu (21/7/2021).

Ivermectin, menurut BPOM, saat ini tengah menjalani uji klinis terkait potensi penggunaannya dalam penanganan COVID-19. Uji klinis dilakukan oleh Badan Pengkajian Kebijakan Kesehatan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kementerian Kesehatan di 8 rumah sakit.

Untuk memfasilitasi penggunaan Ivermectin untuk terapi COVID-19 di luar uji klinis, BPOM menerbitkan Skema Perluasan Penggunaan Khusus (Expanded Access Program/EAP). Namun ditegaskan, penggunaan Ivermectin melalui skema EAP harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk dan dengan pedoman yang sama dengan yang dipakai dalam uji klinis.

Ditegaskan pula, EAP berbeda dengan EUA (emergency use authorization) atau izin penggunaan darurat. Penegasan ini sekaligus mematahkan rumor bahwa BPOM telah menerbitkan EUA bagi Ivermectin untuk dipakai sebagai 'obat' COVID-19.

"Apabila dibutuhkan penggunaan Ivermectin yang lebih luas oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan, maka Kementerian Kesehatan dapat mengajukan permohonan penggunaan Ivermectin dengan skema EAP," tegas BPOM.

Kontroversi penggunaan Ivermectin dalam penanganan COVID-19 banyak mendapat sorotan dari para pakar. Ahli penyakit menular dari University of Marryland yang belakangan populer di Twitter, dr Faheem Younus, turut meragukan manfaatnya.

"Ada studi meta-analisis, yaitu studi berbasis bukti yang jumlah sampelnya sangat tinggi sampai ribuan yang menyatakan Ivermectin tidak dapat menyembuhkan COVID-19," tulisnya dalam sebuah unggahan viral.

Apotek Villa Duta mendadak viral usai disambangi Presiden Joko Widodo saat mencari stok obat antivirus Oseltamivir hingga Azithromycin.Ivermectin kosong di apotek. Foto: Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth

Profesor biokimia dari Universitas Indonesia yang juga dewan pakar Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof Yahdiana Harahap menegaskan, riset tentang Ivermectin untuk COVID-19 masih terbatas. Kalaupun ada, masih dalam skala laboratorium.

Sebagai obat cacing, Ivermectin hanya dikonsumsi setahun sekali dengan dosis yang relatif kecil. Karenanya, butuh riset mendalam untuk mendapat konversi dosis yang tepat jika akan digunakan sebagai antivirus.

"Dia (Ivermectin) bisa mematikan virus kalau konsentrasi 5 mikro molar. Sedangkan sudah dinaikkan pun dosisnya 8,5 kalinya itu konsentrasi di dalam tubuh hanya ditemukan 0,28 mikro molar. Artinya 1/250. Ini concern dosis itu harus diperhatikan," jelas Prof Yahdiana dalam konferensi pers daring, Jumat (2/7/2021).



Simak Video "Sederet Efek Samping Berbahaya dari Penggunaan Obat Ivermectin"
[Gambas:Video 20detik]
(up/kna)