Minggu, 25 Jul 2021 22:00 WIB

Apa Itu Reinfeksi COVID-19 dan Seberapa Mungkin Terjadi?

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
Petugas tenaga kesehatan melakukan swab antigen kepada pemudik di kawasan hunian vertikal Apartemen Gading Nias, Pengangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (20/5). Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Di antara kita mungkin pernah menemukan kasus di mana seseorang yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 justru kembali positif. Dalam istilah medis, kondisi seperti ini disebut sebagai reinfeksi COVID-19.

dr Yoga Fitria Kusuma Sp PD, dari Primaya Evasari Hospital menjelaskan, reinfeksi COVID-19 adalah ketika seseorang yang sudah sembuh dari infeksi virus corona terinfeksi lagi oleh struktur virus corona yang berbeda dengan infeksi virus corona sebelumnya.

Saat sembuh dari COVID-19, tubuh sudah mengembangkan sistem imun yang lebih kuat untuk menghadapi virus Corona. Hal ini terjadi karena sistem imun seseorang yang pernah terpapar COVID-19 telah mengenali karakter virus tersebut sehingga lebih siap menghadapinya ketika terpapar kembali.

Meski tubuh sudah mengembangkan sistem imun untuk melawan COVID-19, masih ada kemungkinan seseorang mengalami reinfeksi. Sebab, COVID-19 terus berkembang atau bermutasi sehingga memiliki banyak varian dengan karakternya masing-masing. Menurut sejumlah penelitian, beberapa varian bahkan mampu melawan sistem imun manusia.

Hal serupa berlaku pada orang yang sudah mendapat vaksin. Walaupun vaksin memberikan perlindungan terhadap serangan virus, orang yang telah divaksin masih bisa terinfeksi jika terpapar virus Corona.

Berbagai penelitian belum bisa menyimpulkan apakah gejala reinfeksi pasti lebih parah dibanding sebelumnya atau tidak. Dokter di Gulhane Training and Research Hospital di Turki menyebutkan terdapat pasien yang pada infeksi pertama tak mengalami gejala, namun saat reinfeksi mengalami gejala ringan.

Namun beberapa penelitian lain menemukan tidak ada perbedaan gejala antara infeksi pertama dan kedua. Bahkan, ada pasien yang gejalanya lebih ringan ketika terkena reinfeksi COVID-19.

"Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah sistem imun. Jika imun yang terbentuk dari infeksi pertama masih kuat dan bisa melawan virus Corona, maka gejalanya akan ringan atau bahkan tidak ada gejala. Sedangkan, bila imun sudah lemah atau tidak dapat menemukan virus Corona yang menyerang tubuh seseorang, maka gejalanya bisa lebih berat," ujar dr Yoga.

Maka itu, orang yang pernah terinfeksi COVID-19 tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Karena, hingga saat ini belum ada penelitian yang bisa memastikan berapa lama antibodi dapat bertahan, baik antibodi yang terbentuk alami akibat infeksi COVID-19 maupun yang berasal dari vaksinasi.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)