Senin, 26 Jul 2021 09:23 WIB

Makan di Warung Maksimal 20 Menit? Santai, Ini Risikonya Kalau Buru-buru

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Portrait of asian businesswoman in casual suit eating noodles with happiness action in rush hour at the desk beside the glass in modern office, Business work hard concept Foto: Getty Images/iStockphoto/Tzido
Jakarta -

Aturan terbaru PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 4 memperbolehkan warung buka dan melayani 'dine in', tetapi dengan protokol kesehatan ketat dan maksimal cuma 20 menit. Wah, harus buru-buru dong?

Sebaiknya sih tidak perlu buru-buru. Kalau memang dirasa terlalu singkat, maka kurangi saja porsi untuk makan di tempat. Selebihnya, bungkus bawa pulang atau dimakan di tempat lain.

Paling ideal memang dibawa pulang alias 'take away', namun tidak semua orang bisa melakukannya karena berbagai alasan, misalnya tuntutan pekerjaan. Yang perlu diingat, interaksi dengan banyak orang saat berada di tempat umum bisa meningkatkan risiko tertular COVID-19, terlebih masker tidak mungkin dikenakan saat sedang makan.

Apapun kondisinya, sebaiknya tetap tenang ketika sedang makan. Tetap fokus, tidak sambil melakukan aktivitas lain termasuk ngobrol, sehingga bisa memanfaatkan waktu dengan lebih efisien. Para pakar mengingatkan, makan dalam kondisi terburu-buru bisa memberikan efek merugikan.

Di antaranya sebagai berikut, seperti dikutip dari Livestrong.

1. Sakit perut

Makan terlalu cepat bisa memicu indigestion atau gangguan pencernaan, antara lain ditandai dengan perut terasa begah dan tidak nyaman. Bukan tidak mungkin, bisa memicu refluks asam lambung atau GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease).

2. Berat badan naik

Memang tidak serta merta, tetapi dalam jangka panjang kebiasaan makan terburu-buru berhubungan dengan risiko peningkatan berat badan. Orang-orang yang lebih santai saat makan cenderung memiliki kadar ghrelin, hormon rasa lapar, yang lebih rendah.

3. Kehilangan sinyal lapar-kenyang

Rasa lapar dan kenyang pada dasarnya dikendalikan oleh otak. Koneksi antara perut dan otak rentan mengalami gangguan bila terlalu sering makan dalam kondisi terburu-buru.

4. Penyakit kronis

Berbagai penelitian mengaitkan kebiasaan makan terlalu cepat dengan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sebuah riset oleh Dr Takayuki Yamaji, ahli jantung dari Hiroshima University, menyimpulkan bahwa orang-orang yang makan terlalu cepat lebih rentan mengalami sindrom metabolik.



Simak Video "6 Indikator Penentu Status Level PPKM "
[Gambas:Video 20detik]
(up/kna)