Selasa, 27 Jul 2021 15:54 WIB

e-Life

Sekolah Online Bikin Skenario Hidup Anak Bubar Jalan

dtv - detikHealth
Jakarta -

Salah satu perubahan paling signifikan dalam kehidupan masyarakat sejak pandemi COVID-19 adalah dilakukannya sekolah online. Kegiatan belajar mengajar saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan secara tatap muka, sehingga siswa 'dipaksa' harus merasa cukup dengan pendidikan virtual.

Melalui sekolah online, orang tua dituntut untuk turut mendampingi anak belajar. Terdapat pula tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi siswa dan orang tua dalam beradaptasi dengan kultur sekolah online.

Menurut Psikolog Pendidikan dan Founder Yaa Bunayya Pre-School Yogyakarta, Monika Aprianna, M.Psi., Psikolog, ada tiga hal yang perlu diperhatikan orang tua mengenai sekolah online anak, yaitu rutinitas, tes komitmen, dan paham aturan sekolah.

"Tentang rutinitas, sebelum pandemi kita tahu setiap hari berangkat jam berapa, makan jam berapa, tidur jam berapa. Setelah pandemi bagaimana? Bubar jalan, kacau balau. Jadi perlu penyesuaian. Lalu tes komitmen, atau bagaimana dia berkomitmen untuk mengerjakan apa yang di-deliver oleh guru atau sekolah. Dan juga, tahu aturannya. Kalau Zoom, jamnya jam berapa, aturannya apakah kameranya harus dibuka, itu juga perlu kita pahamkan pada anak," terang Monika di acara e-Life detikcom.

Demi terwujudnya suasana belajar yang kondusif untuk anak, orang tua perlu melakukan pendampingan. Terkait sampai berapa lama anak perlu didampingi orang tua, Monika menyatakan bahwa hal ini tergantung pada usia anak.

"Bahkan untuk usia SD kelas 1-6 pun sebenarnya butuh pendampingan. Dalam artian, kita perlu terlibat, bukan dalam ngerjain tugasnya, tapi dalam mengecek. Lalu, tak kalah penting, bagaimana membuat iklim belajar di rumah itu menyenangkan," kata Monika.

Parenting Content Creator, Annisa Steviani turut membagikan pengalamannya mendampingi anak sekolah online. Baginya, pandemi mengharuskan tak hanya sang anak untuk beradaptasi, tapi orang tua pun perlu belajar beradaptasi juga. Bahkan, karena sulitnya adaptasi pada masa awal PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) 2020, Annisa memutuskan untuk tidak memaksa sang anak menuntaskan pendidikan di bangku TK.

"Dulu anakku TK-nya keluar. Waktu PSBB awal, kondisinya kita sedang adaptasi semua, ya. Jadi itu kondisi yang bukan seperti sekarang yang kayak kita tuh udah biasa jam segini Zoom, inilah new normal. Tapi pada saat itu, nggak bisa kan. Jadi, aku kayak, nggak bisa nih, aku aja sebagai orang dewasa harus beradaptasi dengan sebuah kebiasaan yang baru, aku tidak akan memaksa anakku untuk sekolah dulu," jelas Annisa.

Saat akhirnya sang anak menginjak bangku SD, Annisa juga perlu melakukan adaptasi yang perlahan dalam mendampingi anak sekolah online. Penyebab utamanya adalah karena anak Annisa memiliki Sensory Processing Disorder (SPD) yang semakin parah saat pandemi, sehingga berpengaruh pada proses adaptasi di sekolah online.

"Di awal, dia tidak mau membuka kamera, aku oke. Tapi semua tugas, kita tetap kerjain. Jadi, komitmen di tiga bulan pertama adalah tugasnya selesai dulu ya. Baru di semester kedua, dia mau buka kamera full, mau bicara dengan mic yang kencang, tugasnya juga sudah dikerjakan bersama gurunya. Jadi, sekarang terdengar lebih mudah karena sudah tahun kedua, aku sudah melalui semua adaptasi itu," terang Annisa.

Salah satu tantangan yang harus dihadapi orang tua saat mendampingi anak sekolah online adalah perkara anak yang kurang fokus. Menanggapi ini, Monika mengatakan bahwa pada dasarnya sekolah online memiliki keterbatasan dibanding sekolah tatap muka.

Pada sekolah tatap muka, seluruh panca indra terlibat dalam proses pembelajaran. Ketika sekarang dihadapkan dengan kondisi online, prosesnya kini terbatas lewat layar saja, sehingga lebih memaksimalkan indra penglihatan daripada lainnya.

Monika menyarankan agar pihak sekolah dan orang tua bersinergi untuk membuat iklim belajar anak jadi menyenangkan. "Perlu kerjasama orang tua dan sekolah, bagaimana guru bisa memberikan pembelajaran yang variatif dan interaktif. Supaya anak fokus, kita bisa memberikan tantangan atau membuat target. Anak juga diajak membuat target, dan diberikan pilihan. Mau menyelesaikan tugas yang mana dulu? Ketika anak terlibat, itu akan berpengaruh pada kondisi anak untuk happy saat pembelajaran daring," papar Monika.

Bagi orang tua yang bekerja sehingga tidak bisa memberi pendampingan penuh pada anak, Monika menyarankan untuk mendelegasikan peran tersebut kepada pihak lain yang ada. Misalnya ke anggota keluarga seperti suami, kakek, nenek, dan lain-lain.

Selain perkara fokus anak saat sekolah online, hal lain yang kerap dikhawatirkan orang tua tentang sekolah non tatap muka adalah pengaruhnya pada keterampilan sosial anak. Sekolah online yang hanya terbatas layar, ditakutkan menyebabkan keterampilan sosial anak menurun, dibandingkan jika sekolah dilakukan secara tatap muka.

"Salah satu kelemahan daring, mau nggak mau memang kaitannya dengan kompetensi sosial anak. Selama ini, dalam pemahaman kognitif bisa lah ya. Tapi, ada kompetensi lain yang nggak bisa digantikan oleh layar, seperti sentuhan, komunikasi, sikap, jadi hal-hal yang berkaitan dengan karakter itu sepertinya sulit diwujudkan kalau kita pembelajarannya daring. Maka, orang tua harus mem-back up," kata Monika.

Hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mengasah keterampilan sosial anak adalah dengan mengajarkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Misalnya, Monika menyarankan adanya pertemuan keluarga di mana semua anggota keluarga saling bercerita dan mendengarkan satu sama lain, sehingga melatih keterbukaan.

Untuk mengatasi keterbatasan interaksi sosial anak yang diakibatkan oleh pandemi, Annisa memiliki kiat tersendiri untuk anaknya. Ia memastikan agar setiap hari terdapat sesi video call dengan ibu Annisa, agar sang anak bisa berinteraksi dengan orang lain selain ayah dan ibunya sendiri.

Tak hanya itu, Annisa juga memberi waktu satu jam setiap hari agar anak bisa bermain game online sambil ber-video call dengan temannya. Hal ini dilakukan agar kebutuhan bersosialisasi anak dengan teman sebayanya bisa terpenuhi di saat-saat seperti ini.

Pada akhirnya, kegiatan belajar online di era pandemi memang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, terutama orang tua. Menurut Monika, sekolah online adalah metode pembelajaran yang paling memungkinkan untuk dilakukan saat ini.

"Memang banyak kelemahan dan keterbatasan, tapi dengan peran dan kerja sama antara orang tua dan guru, itu bisa kita optimalkan. Pembelajaran bisa kita tingkatkan kualitasnya. Guru, gimana menjalin interaksi, membuat konektivitas dengan anak, membuat pembelajaran yang menyenangkan. Juga orang tua bagaimana bisa men-support anak dengan memfasilitasi iklim pembelajaran yang menyenangkan," tutur Monika.

Sedangkan menurut Annisa, penting bagi para orang tua untuk menyadari bahwa tugas mendampingi anak sekolah online masih akan berlanjut dalam waktu yang lama.

"Jangan pakai mindset bahwa ini akan segera berakhir. Masih akan panjang perjalanan kita nemenin anak sekolah online. Jadi, ayo adaptasi dari sekarang, ayo dicari solusinya. Kalau pun ada masalah, jangan ragu untuk buka komunikasi dengan guru, suami, dan anak," tutup Annisa.

(gah/gah)