Selasa, 27 Jul 2021 17:57 WIB

e-Life

Keterampilan Sosial yang Tercederai Sekolah Online

dtv - detikHealth
Jakarta -

Sekolah online tentu memiliki banyak keterbatasan dibanding sekolah tatap muka. Hal ini termasuk permasalahan fokus anak, perlunya pendampingan orang tua yang lebih intens, keterampilan sosial anak yang dikhawatirkan akan lebih rendah, hingga kekhawatiran terhadap kemungkinan anak untuk lebih mudah mencontek.

Menurut Psikolog Pendidikan dan Founder Yaa Bunayya Pre-School Yogyakarta, Monika Aprianna, M.Psi., Psikolog, pada dasarnya sekolah online memang berbeda dengan sekolah tatap muka.

Pada sekolah tatap muka, seluruh panca indra terlibat dalam proses pembelajaran. Ketika sekarang dihadapkan dengan kondisi online, prosesnya kini terbatas lewat layar saja, sehingga lebih memaksimalkan indra penglihatan daripada lainnya.

Monika menyarankan agar pihak sekolah dan orang tua bersinergi untuk membuat iklim belajar anak jadi menyenangkan. "Perlu kerjasama orang tua dan sekolah, bagaimana guru bisa memberikan pembelajaran yang variatif dan interaktif. Supaya anak fokus, kita bisa memberikan tantangan atau membuat target. Anak juga diajak membuat target, dan diberikan pilihan. Mau menyelesaikan tugas yang mana dulu? Ketika anak terlibat, itu akan berpengaruh pada kondisi anak untuk happy saat pembelajaran daring," papar Monika di acara e-Life detikcom.

Namun, tentu tidak semua orang tua bisa mendampingi anak secara penuh saat sekolah online. Bagi orang tua yang bekerja sehingga tidak bisa memberi pendampingan penuh pada anak, Monika menyarankan untuk mendelegasikan peran tersebut.

"Kita perlu, istilahnya, mendelegasikan agar semuanya bisa berjalan. Mendelegasikan dengan mungkin suami, orang tua kita, kakek, nenek. Atau mungkin kalau nggak bisa semua, ada ART, ya kita bisa. Tapi, dalam pendelegasian itu kita perlu memperjelas kegiatan anak ini apa saja. Kita juga perlu mengedukasi yang mendampingi anak kita, 'Coba di ini ya Bu, Pak, biar mengerjakan sendiri.' Jadi itu yang bisa kita upayakan," terang Monika.

Kemudian, orang tua juga perlu mengusahakan komunikasi yang baik pada anak, agar anak memahami kondisi sekolah online saat ini. Parenting Content Creator, Annisa Steviani membagikan pengalamannya dalam usaha untuk berkomunikasi dengan anak terkait dengan sekolah online.

"Aku selalu memastikan indranya tidak terdistraksi yang lain, hanya mendengarkan aku. Jadi, sebelum tidur tuh kamarnya udah gelap, dia udah mandi, dia udah kenyang, udah siap tidur dan udah nggak pegang-pegang mainan. Baru aku bilang, aku apresiasi bahwa dia udah besar dan dia udah siap untuk tanggung jawab yang lebih besar. Dan aku ulang-ulang. Yang namanya anak kan butuh repetisi ya, nggak bisa kita ngomong satu kali dan berharap dia mengerti selamanya," jelas Annisa.

Selain itu, kekhawatiran orang tua terkait sekolah online anak adalah terbatasnya kesempatan anak untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka. Ditakutkan, sekolah online yang hanya terbatas layar akan menyebabkan keterampilan sosial anak menurun.

"Salah satu kelemahan daring, mau nggak mau memang kaitannya dengan kompetensi sosial anak. Selama ini, dalam pemahaman kognitif bisa lah ya. Tapi, ada kompetensi lain yang nggak bisa digantikan oleh layar, seperti sentuhan, komunikasi, sikap, jadi hal-hal yang berkaitan dengan karakter itu sepertinya sulit diwujudkan kalau kita pembelajarannya daring. Maka, orang tua harus mem-back up," kata Monika.

Terkait hal ini, Monika menyarankan agar orang tua untuk mengasah keterampilan sosial anak dengan mengajarkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Misalnya, Monika menyarankan adanya pertemuan keluarga di mana semua anggota keluarga saling bercerita dan mendengarkan satu sama lain, sehingga melatih keterbukaan.

Sedangkan Annisa, ia memiliki kiat tersendiri untuk mengatasi keterbatasan interaksi sosial anak yang diakibatkan oleh pandemi. Ia memastikan agar setiap hari terdapat sesi video call dengan ibu Annisa, agar sang anak bisa berinteraksi dengan orang lain selain ayah dan ibunya sendiri. Tak hanya itu, Annisa juga memberi waktu satu jam setiap hari agar anak bisa bermain game online sambil ber-video call dengan temannya.

Kekhawatiran lain yang kerap dirasakan orang tua terkait sekolah online anak adalah kemudahan untuk mengakses internet saat ujian sekolah. Kemudahan ini dikhawatirkan membuat anak lebih rentan mencontek lewat internet.

Menanggapi hal ini, Monika menekankan bahwa era saat ini sudah berbeda dengan dulu. Internet adalah salah satu medium bagi anak untuk belajar, dan orang tua perlu mengenalkannya pada anak. Akan tetapi, tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan.

"Nah kita juga perlu mengenalkan tentang internet. Tapi, kita perlu memahamkan juga do and don'ts nya. 'Ini lho Dik, kalau kita berselancar di internet, tidak semuanya lho itu benar.' Nah, gimana kalau ujian? Itu kembali ke value keluarga bagaimana menanamkan hal tersebut? Kita perlu memahami bahwa anak juga berproses untuk belajar. Apapun nilainya, it's okay, nggak masalah. Itu kita memberikan pengertian pemahaman ke anak juga, apapun hasilnya ke ujian, coba kamu lakukan dengan usahamu sendiri, ya kamu berusaha untuk mengerjakannya sendiri, belajar jujur," jelas Monika.

Tonton tayangan lengkap e-Life di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



(gah/gah)