Rabu, 28 Jul 2021 13:23 WIB

Sudah 6 Bulan Jokowi-Raffi Ahmad Dapat Vaksin Sinovac, Butuh Booster?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 pada Rabu, 27 Januari 2021, di sisi barat halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta. Dua minggu lalu, tepatnya pada 13 Januari 2021, Presiden menjadi orang pertama yang menerima suntikan dosis vaksin dalam program vaksinasi massal secara gratis di Indonesia. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Penelitian terbaru di China menunjukkan kadar antibodi yang dihasilkan vaksin Sinovac menurun 6 bulan pasca suntik. Kondisi ini terjadi pada mereka yang sudah divaksin dua dosis.

Hasil studi didapatkan setelah mengambil sampel darah orang dewasa berusia 18 hingga 59 tahun. Data penurunan antibodi ini didasarkan pada dua kelompok yang terlibat penelitian, masing-masing terdiri dari 50 peserta.

"Untuk peserta yang menerima dua dosis, dengan rentang dua sampai empat minggu, hanya 16,9 persen dan 35,2 persen yang memiliki tingkat antibodi di atas ambang batas enam bulan setelah dosis kedua," tulis makalah tersebut.

Peneliti dari otoritas pengendalian penyakit di provinsi Jiangsu, Sinovac, dan institusi Tiongkok dalam pemaparannya juga menyarankan adanya booster atau suntikan tambahan vaksin COVID-19.

Catatan detikcom, beberapa orang termasuk Presiden Joko Widodo dan Raffi Ahmad termasuk kelompok pertama yang mendapat vaksin pertama pada awal Januari 2021. Jika menghitung dari rentang waktu pemberian vaksin dosis kedua antara 27 Januari-28 Juli, maka keduanya sudah mendapatkan vaksin dalam kurun enam bulan.

Berdasarkan riset China tersebut, baik Jokowi maupun Raffi Ahmad disarnkan mendapat vaksin dosis ketiga.

Tes antibodi usai vaksin Corona tetap tidak disarankan

Adanya penurunan antibodi usai vaksin tidak lantas berarti harus berbondong-bondong melakukan tes antibodi. Sebab yang menjadi pengujuan untuk menentukan kadar imunogenitas bukan dengan tes antibodi setelah vaksin.

Untuk menentukan imunogenitas yang timbul dari pemberian vaksinasi adalah dengan pemeriksaan uji netralisasi.

Uji netralisasi pun tidak mudah dilakukan dan sangat berisiko, karena menggunakan virus yang hidup. Uji netralisasi ini menjadi gold standar untuk menentukan imunogenitas dan hanya bisa dilakukan di laboratorium yang terbatas.

"Jadi, kalau kita melaksanakan pemeriksaan antibodi, itu hanya mengukur kadar antibodi di dalam tubuh kita," kata juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi beberapa waktu lalu.

Simak video 'Penjelasan Pakar soal Booster Vaksin COVID-19 Tak Pakai Sinovac':

[Gambas:Video 20detik]



(kna/up)