Kamis, 29 Jul 2021 12:05 WIB

4 Fakta Dexamethasone, 'Obat Dewa' yang Disebut Bisa Sembuhkan Pasien Corona

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Peneliti di Inggris menyatakan ujicoba pengobatan COVID-19 menggunakan dexamethasone menunjukkan keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasien. Foto: Getty Images/Matthew Horwood
Jakarta -

Salah satu obat COVID-19 yaitu dexamethasone disebut-sebut sebagai 'obat dewa'. Pasalnya, para peneliti di Universitas Oxford, Inggris, menyebut obat tersebut mampu mengurangi risiko kematian pada pasien Corona.

"Dexamethasone tidak mahal, tersedia di mana-mana dan dapat segera digunakan untuk menyelamatkan nyawa di seluruh dunia," ujar Peter Horby, pemimpin penelitian dari Universitas Oxford dan salah satu Kepala Investigator uji klinis pengobatan COVID-19.

Berikut beberapa fakta soal dexamethasone yang perlu diketahui.

Apa itu dexamethasone?

Dikutip dari laman resmi FKUI, dexamethasone adalah salah satu obat COVID-19 yang termasuk golongan steroid yang murah. Obat ini sering dijuluki sebagai 'obat dewa' karena efek terapinya yang cepat.

Guru Besar Departemen Penyakit Dalam FKUI, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan obat ini juga digunakan sebagai obat radang, seperti pada pasien radang sendi dan berbagai bengkak akibat peradangan. Bahkan obat ini juga digunakan untuk kombinasi dengan obat kanker sebagai kemoterapi.

Tak hanya itu, obat ini juga digunakan untuk beberapa kelainan darah, asma, alergi pada mata, THT, hingga autoimun. Prof Ari mengatakan mungkin karena khasiat anti inflamasi yang membuat dexamethasone digunakan untuk pasien COVID-19.

"Sepertinya khasiat anti inflamasi ini yang dimanfaatkan dari obat dexamethasone untuk pasien dengan infeksi covid-19 berat yang memang terjadi peningkatan reaksi inflamasi," jelas Prof Ari.

Dexamethasone dan COVID-19

Berdasarkan laporan ketua tim peneliti dari the Randomised Evaluation of COVID-19 therapy (Recovery) trial on dexamethasone dari Oxford University, dexamethasone menjadi obat pertama yang bisa memperbaiki survival pasien COVID-19.

Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa dexamethasone memiliki efek terapi pada pasien

Pada penelitian tersebut, sebanyak 2.104 pasien yang mendapat dexamethasone 6 mg/hari baik secara oral atau intravena selama 10. Sementara 4.321 pasien lainnya tidak mendapatkan tambahan obat dexamethasone.

Hasilnya, obat dexamethasone hanya memiliki efek terapi pada pasien COVID-19 yang dengan gejala berat-sedang. Tetapi, tidak mempunyai efek apapun terhadap pasien dengan gejala ringan.

Efek samping dexamethasone

Sama seperti obat pada umumnya, dexamethasone juga memiliki beberapa efek samping. Menurut Prof Ari, efek samping yang ditimbulkan cukup besar dan serius.

"Itu obat yang terus terang saja efek sampingnya cukup besar," ujarnya.

Pada penggunaan jangka pendek, pasien bisa merasakan sakit pada lambung, mual dan muntah, sakit kepala, nafsu makan meningkat, sulit tidur, gelisah, hingga timbul jerawat pada kulit.

Selain itu, ada beberapa efek samping dexamethasone jika digunakan dalam jangka panjang, yaitu:

  • Tekanan darah naik
  • Gula darah naik
  • Daya tahan tubuh menurun, bisa terkena infeksi lain
  • Tulang keropos dalam jangka panjang

Dexamethasone bisa memicu 'jamur hitam'?

Di India, para ahli meyakini bahwa lonjakan kasus mucormycosis 'jamur hitam' dipicu penggunaan obat-obatan COVID-19 yang berlebihan. Salah satu obat yang disebut bisa memicunya adalah obat steroid, seperti dexamethasone.

Hal ini pun diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi. Ia mengatakan penggunaan obat kortikosteroid seperti dexamethasone dikhawatirkan bisa menjadi salah satu penyebabnya.

"Penggunaan obat kortikosteroid seperti dexamethason dalam jangka panjang dan lama (bisa menjadi penyebabnya)," jelas dr Nadia saat dihubungi detikcom Selasa (27/7/2021).



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)