Kamis, 29 Jul 2021 18:15 WIB

Para Pakar Tegaskan Vaksin Booster untuk Umum Belum Perlu, Ini Alasannya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 yang akan disuntikkan kepada anak usia 12-18 tahun di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (10/7/2021). Dalam rangka Hari Anak Nasional, Dinas Kesehatan kota Palembang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang menggelar vaksinasi massal COVID-19 terhadap anak usia 12-18 tahun dengan target 1.000 orang anak per hari. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww. Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta -

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai vaksinasi booster belum dibutuhkan masyarakat umum Indonesia, terlebih cakupan dosis vaksinasi pertama dan kedua masih rendah. Belum lagi persoalan distribusi vaksin COVID-19 ke sejumlah daerah yang dinilai masih bermasalah.

Deretan masalah tersebut dihadapi saat pemerintah membuka target vaksinasi lebih luas, sesudah prioritas lansia dan pekerja publik.

"Nah jadi tantangan ini akan semakin besar, kita dihadapkan ke depan, ketika laju vaksinasi itu meluas ke daerah, karena distribusi itu juga punya problem. Belum lagi ketika proporsionalitas jumlah demografi menjadi tantangan juga, misalnya kita lihat demografi terbesar ada di Jabar, Jateng, Jatim, baru di provinsi lain," jelas Hermawan saat dihubungi detikcom Kamis (29/7/2021).

Sementara, kelancaran distribusi vaksinasi COVID-19 di sejumlah daerah akan bergantung pada kabupaten/kota tersebut. Tak hanya itu, persoalan vaksinasi COVID-19 Indonesia juga terjadi di masa interval vaksin COVID-19.

Ada beberapa orang yang baru menerima vaksin Corona Sinovac dua bulan pasca disuntik. Hal ini bisa mengganggu proteksi yang dibangun lewat vaksinasi.

"Sehingga jarak antara orang yang disuntik pertama kali itu juga harus siap untuk disuntik kedua kali, sehingga efikasi betul-betul optimal, PR Indonesia sebenarnya belum sampai ke diskusi dengan vaksin booster," tegasnya.

"Malah kita masih harus menuju kebutuhan agar optimalisasi vaksinasi terbentuk sampai proteksi terbentuk ya itu waktu yang tepat," sambungnya.

Senada, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman juga mengingatkan sasaran prioritas vaksinasi COVID-19. Masyarakat dinilai belum perlu untuk mendapatkan vaksinasi booster karena kasus kematian COVID-19 banyak berasal dari sejumlah kelompok rentan seperti nakes hingga lansia.

"Belum lah untuk vaksin booster ini kita kan masih harus memprioritaskan tenaga kesehatan, atau mereka yang mempunyai komorbid. Karena mereka yang paling banyak berkontribusi pada angka kasus COVID-19 dan kematian," sebut dia.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penyuntikan Vaksin Booster Covid-19 Ditunda Dulu"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)