Kamis, 29 Jul 2021 20:02 WIB

Ilmuwan Oxford-AstraZeneca asal RI Komentari Hoax Vaksin Isi Microchip

Vidya Pinandhita - detikHealth
Indra Rudiansyah Indra Rudiansyah. (Foto: Dok. YouTube Deutsche Bank)
Jakarta -

Warga +62 sempat dihebohkan isu soal vaksin COVID-19 berisi microchip penyadap. Meski banyak pakar telah membantahnya, rupanya banyak juga yang masih meyakini kebenaran rumor tersebut hingga akhirnya ogah divaksinasi.

Seorang peneliti vaksin COVID-19 AstraZeneca asal Indonesia, Indra Rudiansyah, menegaskan bahwa kabar soal isi vaksin tersebut tidak benar. Indra adalah seorang mahasiswa doktoral di Oxford University yang kini mendalami bidang clinical medicine.

"Saya sendiri sangat jelas mengetahui apa itu kandungan dari masing-masing vaksin," jelas Indra dalam bicang daring bersama media, Kamis (29/7/2021).

"Biasanya, kan tadi saya sudah jelaskan, vaksin itu mengandung bahan baik itu virus yang sudah dimatikan atau dilemahkan atau sebagian kecil dari protein-protein penting dari virus atau bakteri yg digunakan sebagai bahan baku utama vaksin," lanjutnya.

Indra memaparkan, selain komponen utama tersebut, terdapat komponen tambahan dalam kandungan vaksin. Misalnya, larutan penyangga yang berfungsi menstabilkan virus atau protein sehingga tidak mudah hancur.

"Kemudian, ada larutan lainnya untuk menstabilkan kondisi dalam tubuh karena cairan tubuh dan cairan air biasa berbeda. Jadi kita harus me-maintain agar sesuatu yang dimasukan dalam tubuh itu isotonik atau seimbang dengan kondisi cairan dalam tubuh," imbuh Indra.

Benarkah ada garam dan gula dalam vaksin?

Lantaran efek samping vaksin COVID-19 berbeda pada tiap penerima, sempat muncul sejumlah pihak yang mempertanyakan kandungan cairan vaksin. Ada yang bilang, isinya air garam.

Indra menjelaskan, beberapa jenis vaksin, khususnya yang diberikan secara oral memang mengandung gula. Akan tetapi, komponen tersebut ada dengan fungsi menstabilkan kandungan vaksin.

"Beberapa vaksin, misalnya yang oral itu ada ditambahkan suatu gula sehingga selain untuk menstabilkan komponennya, juga untuk vaksin seperti polio itu kita tambahkan semacam gula untuk memberikan rasa manis tentu saja. Selain itu, dia bersifat menstabilkan dari vaksinnya tersebut sendiri," jelasnya.

"Dan beberapa penstabil lainnya ketika vaksin, itu harus disimpan dalam suhu yang sangat rendah," pungkas Indra.



Simak Video "Indonesia Terima 5 Juta Vaksin Jadi dan 9,2 Juta Bulk Vaksin Sinovac"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)