Jumat, 30 Jul 2021 05:46 WIB

Round Up

Belum Semua Nakes Dapat, Perlukah Ada Booster Vaksin COVID-19 untuk Umum?

Tim detikHealth - detikHealth
Ribuan tenaga kesehatan (nakes) menjalani vaksinasi COVID-19 di Surabaya. Ada 4 ribu lebih nakes yang disuntik vaksin COVID-19. Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Seberapa lama vaksin COVID-19 memberikan perlindungan optimal, perlahan mulai terjawab. Dalam beberapa riset, efikasi vaksin berkurang 6 bulan setelah penyuntikan.

Studi terbaru di China menunjukkan, kadar antibodi yang terbentuk di dalam tubuh turun 6 bulan usai pemberian dosis kedua vaksin Sinovac. Para ilmuwan mempertimbangkan perlu tidaknya pemberian dosis ketiga alias booster.

Kodisi yang sama juga terjadi pada vasin Pfizer-BioNTech yang mengusung teknologi paling mutakhir yakni mRNA. Dalam riset terbaru, efikasi vaksin tersebut berkurang menjadi 84 persen dalam 4-6 bulan setelah penyuntikan lengkap.

"Kabar baiknya adalah kami sangat, sangat yakin, bahwa dosis ketiga (booster) akan memberikan respons imun ke tingkat yang cukup untuk melindungi dari varian Delta," kata CEO Pfizer Albert Bourla , dikutip dari CNBC, Kamis (29/7/2021).

WHO belum merekomendasikan

Meski ramai diperbincangkan, wacana pemberian booster atau dosis ketiga vaksin Corona belum jadi anjuran organisasi kesehatan dunia WHO. Direktur program imunisasi WHO, Dr Kate O'Brien menyebut belum ada cukup bukti bahwa hal tersebut memang dibutuhkan.

"Jadi kami masih belum merekomendasikan booster karena informasinya masih belum cukup," kata Kate.

Di tanah air, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) telah melakukan kajian terkait pemberian dosis ketiga untuk umum. Hasilnya belum diungkap, tetapi sudah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.

"Kajian sudah diserahkan ke Kementerian Kesehatan RI," kata Ketua ITAGI Profesor Dr Sri Rezeki, SpA(K) kepada detikcom, Rabu (28/7/2021).

Program vaksinasi COVID-19 bagi tenaga kesehatan masih terus berjalan. Pemprov DKI Jakarta gelar vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta.Para nakes mengikuti program vaksinasi massal beberapa waktu silam. Foto: Rengga Sancaya

Nakes masih prioritas

Saat ini, pemberian dosis ketiga alias booster di Indonesia sudah dilakukan dengan sasaran para tenaga kesehatan. Kerentanan kelompok yang berjuang di garda depat tersebut menjadi pertimbangan untuk menempatkannya sebagai prioritas.

Vaksin booster yang digunakan adalah buatan Moderna, vaksin dengan teknologi mRNA yang diyakini punya efikasi tinggi.

Sedangkan untuk umum, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai booster belum diperlukan. Terlebih karena cakupan dosis pertama dan kedua saat ini masih relatif rendah.

Persoalan distribusi vaksin, saat ini lebih perlu mendaoat prioritas untuk diselesaikan. Di beberapa tempat, banyak warga tidak bisa mendapatkan dosis vaksin tepat waktu karena terkendala stok.

"PR Indonesia sebenarnya belum sampai ke diskusi dengan vaksin booster," jelas Hermawan, Kamis (29/7/2021).

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, juga menilai booster untuk umum belum diperlukan untuk saat ini. Menurutnya, tingkat kematian paling tinggi berasal dari kelompok rentan, termasuk nakes dan lansia.

"Belum lah untuk vaksin booster ini kita kan masih harus memprioritaskan tenaga kesehatan, atau mereka yang mempunyai komorbid. Karena mereka yang paling banyak berkontribusi pada angka kasus COVID-19 dan kematian," katanya.



Simak Video "Pelaksanaan Vaksinasi Booster Covid-19 untuk Nakes di Cianjur"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)