Jumat, 30 Jul 2021 10:39 WIB

Sinovac-Pfizer Butuh Booster, Vaksin AstraZeneca Gimana?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Foto: Getty Images/Antonio Masiello
Jakarta -

CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, mengungkapkan bahwa vaksin Corona ketiga atau vaksin booster belum memiliki dasar ilmiah yang jelas. Ia juga tidak yakin bahwa vaksin booster itu bisa menciptakan kekebalan lanjutan yang lebih kuat melawan COVID-19.

Soriot menjelaskan vaksin AstraZeneca telah memproduksi sel imun yang cukup tinggi. Ini berarti vaksin seharusnya mampu melawan infeksi COVID-19 dalam jangka waktu panjang.

"Ada dua dimensi kekebalan. Pertama, antibodi (yang) menurun seiring waktu, tetapi dimensi kedua yang sangat penting dari vaksinasi adalah apa yang disebut sel-T. Mereka cenderung melindungi orang dari penyakit parah dan juga memberikan daya tahan," jelas Soriot yang dikutip dari CNBC International, Jumat (30/7/2021).

"Dengan teknologi yang kami gunakan, kami memiliki produksi sel-T yang sangat tinggi. Kami berharap, kami bisa memiliki vaksin yang tahan lama untuk melindungi untuk jangka waktu yang lama," lanjutnya.

Soriot mengatakan, untuk memastikan apakah vaksin booster diperlukan adalah dengan melihat kemanjuran vaksin menurun seiring waktu. Sampai saat ini, pihaknya mengaku belum melihat adanya penurunan efikasi yang bisa mempengaruhi vaksin besutannya.

"Kami tahu bahwa (vaksin) kami memiliki penurunan antibodi (dari waktu ke waktu). Kami belum melihat penurunan kemanjuran, tetapi agak dini untuk menilai dan saya berharap sel-T akan memberikan perlindungan jangka panjang yang tahan lama ini," kata Soriot.

Sebelumnya, vaksin Sinovac dan Pfizer juga mengalami penurunan efikasi atau kemanjuran vaksin. Hal ini mendorong kemungkinan rekomendasi pemberian vaksin booster untuk meningkatkan perlindungan dari virus Corona.

CEO Pfizer Albert Bourla pun sangat yakin bahwa orang-orang membutuhkan dosis penguat. Sebab, antibodi yang dihasilkan vaksin bisa memudar dari waktu ke waktu dan juga perkembangan varian Delta yang kian meluas.

"Kami sangat, sangat yakin bahwa dosis ketiga vaksinnya akan memberikan kekebalan yang cukup untuk melindungi dari varian Delta COVID-19 yang menyebar lebih cepat," ujar Bourla.

Bourla pun mengakui bahwa vaksin buatannya mengalami pengurangan efikasi dalam waktu beberapa bulan pasca penyuntikan.

"Kemanjuran vaksin menurun menjadi sekitar 84 persen, dalam 4-6 bulan setelah dosis kedua diberikan," imbuhnya.



Simak Video "Sudah Disuntik Vaksin Booster Covid-19, Ini Cerita Nakes"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)