Jumat, 30 Jul 2021 12:10 WIB

Booster Vaksin Corona, Perlukah? Ini Kata Peneliti AstraZeneca Asal Indonesia

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pedagang pasar Sleman mengikuti vaksinasi di GOR Pangukan, Sleman, Yogyakarta, Rabu (9/6/2021). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menargetkan sebanyak 11.000 pedagang pasar tradisional divaksin hingga akhir Juni ini. Pelaksanaan vaksinasi Covid-19  AstraZeneca bagi pedagang pasar di Sleman dimulai 9 Juni 2021. Ilustrasi. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Salah satu peneliti vaksin AstraZeneca asal Indonesia, Indra Rudiansyah, angkat bicara soal perlu-tidaknya pemberian booster vaksin COVID-19, khususnya AstraZeneca.

Menurut mahasiswa S3 Clinical Medicine di Oxford University tersebut, penurunan antibodi dalam jangka waktu tertentu setelah pemberian dosis lengkap vaksin adalah hal normal. Namun ketika tubuh terinfeksi, antibodi akan diproduksi kembali dalam tubuh, sebab vaksinasi bekerja menghasilkan sel-sel memori yang bisa memproduksi antibodi.

Di samping itu, riset tentang perlu atau tidaknya pemberian booster atau suntikan ke-3 vaksin AstraZeneca telah dilakukan. Menurut riset, booster memang bisa menaikkan kembali antibodi.

"AstraZeneca sendiri memang kita sudah lakukan studi bahwa dosis ke-3 itu bisa me-maintain antibodi respons yang dihasilkan. Jadi ketika sudah turun kembali kemudian diberikan dosis ke-3, itu bisa kembali ke level yang kita inginkan," terangnya dalam bidang bersama media secara virtual, Kamis (29/7/2021).

"Tapi pertanyaannya, apakah diperlukan dosis ke-3? Di mana sekarang kita mengingat bahwa di Indonesia, banyak sekali orang yang belum mendapatkan dosis pertama atau menyelesaikan dosis 2, sedangkan jumlah dosis itu sangat terbatas," ujarnya.

Sangat tidak perlu untuk masyarakat umum

Indra menjelaskan, untuk membentuk kekebalan, vaksin bekerja secara kelompok. Artinya, vaksinasi untuk orang-orang yang memang bisa mendapatkan vaksin juga berfungsi melindungi orang-orang lain yang tidak bisa mendapatkan vaksin.

Maka itu, pemberian dosis ke-3, khususnya pada masyarakat luas justru bisa menimbulkan ketimpangan antara stok dengan jumlah orang yang membutuhkan. Lain halnya untuk para tenaga kesehatan, pemberian booster menurutnya bisa dijadikan studi tersendiri.

"Dosis 3 saat ini sangat tidak perlu, terutama untuk masyarakat luas. Namun bagi kalangan kesehatan, mungkin itu bisa menjadi studi tersendiri bagi Indonesia untuk melihat bahwa, apakah dosis 3 itu efektif atau bisa mem-booster tenaga kesehatan setelah dosis 2? Atau tidak ada efektivitasnya sama sekali?" beber Indra.

Ia menegaskan, pemberian booster untuk nakes sebagaimana yang kini dijalankan di Indonesia harus diiringi pengawasan. Dengan tujuan, melihat ada atau tidaknya benefit serta efek samping yang ditimbulkan.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penyuntikan Vaksin Booster Covid-19 Ditunda Dulu"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)