Sabtu, 31 Jul 2021 09:38 WIB

Gara-gara Varian Delta, China Bersiap Hadapi Kembalinya Wabah COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Residents line up for coronavirus tests at tents set up on the streets of Beijing on Sunday, Dec. 27, 2020. Beijing has urged residents not to leave the city during the Lunar New Year holiday in February, implementing new restrictions and mass testings after several coronavirus infections last week. (AP Photo/Ng Han Guan) Foto ilustrasi: AP/Ng Han Guan
Jakarta -

Sebagai negara pertama yang menghadapi COVID-19, kondisi China relatif stabil setelah berhasil keluar dari krisis wabah di Wuhan. Namun, kehadiran varian Delta belakangan ini membuat China tampaknya harus bersiap kembali menghadapi ancaman COVID-19.

Kemunculan satu kasus COVID-19 di Kota Nanjing pada 20 Juli 2021 lalu dilaporkan telah menyebar ke 200 orang di 13 kota. Media pemerintah setempat menyebut kemunculan klaster ini jadi ancaman wabah yang terburuk di China setelah krisis Wuhan.

Otoritas mengatakan varian Delta jadi penyebab penyebaran kasus yang begitu cepat. Pejabat dinas kesehatan di kota Nanjing, Ding Jie, menyebut kasus pertama dilacak pada seorang petugas kebersihan yang bekerja di penerbangan dari Rusia pada 10 Juli 2021.

Petugas kesehatan tersebut dilaporkan tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan.

"Ada masalah pengawasan dan manajemen yang tidak profesional," komentar anggota Badan Penegak Disiplin Partai Komunis China, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (31/7/2021).

Otoritas China kini sedang menjalankan program pelacakan agresif dengan 9,3 juta penduduk kota dijadwalkan menjalani pemeriksaan.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)