Senin, 02 Agu 2021 08:02 WIB

Riset: 67,6 Persen Warga India Punya Antibodi COVID-19, Sudah Herd Immunity?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
India mencatat kematian akibat virus Covid-19 hingga 400.312 jiwa, Jumat (2/7).  Angka tertinggi terjadi pada hari ini dengan 853 kematian dalam satu hari. Foto: AP Photo
Jakarta -

Survei Dewan Riset Medis India (ICMR) mengungkapkan dua pertiga orang di 70 distrik di India telah memiliki antibodi terhadap virus Corona. Dari 29.000 peserta, sebanyak 67,6 persen di antaranya memiliki antibodi.

Namun, ahli epidemiologi percaya bahwa India masih jauh untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok yang disebut bisa mengatasi pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan karena munculnya varian Delta yang jauh lebih menular dibandingkan varian Corona sebelumnya.

"Konsep herd immunity tidak berlaku, karena kita masih berusaha memahami virus dan dunia masih dalam pandemi. Ketika pandemi berakhir dan penyakit itu menjadi endemik, kita akan memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang herd immunity," kata ahli epidemiologi Dr Chandrakant Lahariya, yang dikutip dari Straits Times, Senin (2/8/2021).

"Itu tergantung juga pada penularan patogen. Semakin tinggi penularan varian, semakin tinggi ambang batas herd immunity," lanjutnya.

Sebelumnya, herd immunity diperkirakan bisa dicapai saat 60-70 persen populasi telah divaksinasi atau pulih dari COVID-19. Tetapi, para ahli mengungkapkan kemunculan varian Delta di India telah mendorong ambang batas ini menjadi 85-90 persen.

Selain itu, banyak ilmuwan di seluruh dunia menyimpulkan bahwa herd immunity akan sulit dicapai karena beberapa alasan, seperti:

  • Besarnya populasi anak-anak dan orang usia muda yang masih belum bisa divaksinasi.
  • Ada juga kemungkinan munculnya varian yang jauh lebih menular
  • Menurunnya tingkat kekebalan seiring waktu, yang berasal dari vaksin maupun infeksi sebelumnya.

"Kami tahu antibodi mulai menurun dan perlindungan dianggap terkait dengan itu. Ini akan menjadi perjalanan yang bergulir. Dengan begitu, kami tidak mungkin mencapai ambang semacam itu," kata Dr Lahariya.

"Jelas, gagasan herd immunity masih jauh. Perilaku dan vaksinasi yang tepat COVID-19 adalah satu-satunya cara untuk melawan pandemi," imbuhnya.

Ahli lainnya, yaitu Dr Shahid Jameel yang merupakan ahli virus juga skeptis tentang hasil survei antibodi tersebut. Ia tidak yakin bahwa 29.000 peserta survei itu bisa mewakili India yang memiliki populasi sebesar 1,35 miliar orang.

"Sebanyak 29.000 orang yang dijadikan sampel di 70 distrik mungkin tidak benar-benar mewakili ukuran dan kompleksitas India. Hanya 10 persen distrik yang dijadikan sampel, sementara india memiliki 742 distrik," jelasnya.

Ia juga mencatat bahwa hasil survei menunjukkan ada 400 juta orang yang tidak terpapar virus Corona yang harus dilindungi. Artinya, jumlah tersebut masih cukup untuk memicu wabah baru.



Simak Video "Epidemiolog: Jakarta akan Sulit Mencapai Kekebalan Komunal"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)