Selasa, 03 Agu 2021 15:42 WIB

Donasi Rp 2 T Akidi Tio Berbalik Jadi Dugaan Prank, Ini Pesan Psikolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sumbangan COVID Rp 2 Triliun Bikin Heboh, Ini Fakta-faktanya Foto: Istimewa
Jakarta -

Masyarakat kini tengah dibuat gempar oleh kabar donasi Rp 2 triliun untuk penanganan COVID-19 dari keluarga Akidi Tio. Isu yang awalnya ditanggapi dengan banyak respons positif yang mengharu-biru, belakangan berbalik menjadi ungkapan kekesalan netizen karena diduga cuma prank alias palsu.

Belum jelas betul duduk perkaranya, polisi tengah mengusutnya. Namun psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, mengingatkan, emosi dan sikap atas isu semacam ini amat penting untuk dicermati lebih dulu sebelum diekspresikan ke media sosial.

Terlebih mengingat kasus ini belum ada kejelasan dengan informasi serba terbatas, ungkapan emosi yang tak berlandaskan fakta ilmiah justru bisa memicu kemarahan salah sasaran. Ia menyarankan, sebelum menyikapi isu ini, baiknya pahami dulu sebab-akibatnya secara logis dan mencermati perspektif.

"Kita melihatnya dari perspektif apa nih? Pengusaha? Masyarakat? Pihak yang dibantu? Yang membantu? Setiap perilaku orang itu, mereka punya landasan atau alasan tertentu yang membuat orang melakukan itu," ujarnya pada detikcom, Selasa (3/8/2021).

"Sehingga tidak over generalisir, tidak terburu-buru menarik kesimpulan, tidak hanya menggunakan pendapat atau opini pribadi. Lebih selektif dalam menilai informasi, lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Di situ orang jauh lebih bisa memilih perilaku mana yang tepat, respons mana yang tepat," lanjutnya.

Informasi simpang siur ditelan bulat-bulat, apa risikonya?

Di awal munculnya 'kabar baik' sumbangan 2T, netizen berbondong-bondong menyampaikan ucapan bangga. Namun kini seiring munculnya kabar dugaan penipuan, netizen berbalik menyampaikan ungkapan kesal. Tak hanya soal dugaan prank, ada juga yang menyinggung latar bisnis hingga etnis tersangka.

Sari mengingatkan, kondisi inilah yang membuat sikap over generalisir amat penting untuk dihindari. Sebab jika marah salah sasaran, ungkapan masyarakat di media sosial bisa meluber pada aspek lain yang sebenarnya tak berkaitan dengan insiden tersebut.

"Kalau kita bicara sumabngan-sumbangan yang mungkin beberrapa oknum juga suka melakukan penipuan dan itu muncul di media sosial. Ini bahaya kalau seseorang berpikirnya menjadi over generalisir terhadap kelompok tertentu. Disamaratakan padahal itu sifatnya oknum. Entah itu ke pengusahanya, atau mungkin etnisnya terkait SARA, ini bahaya. Yang ada nanti menimbulkan ketidaksenangan terhadap kelompok atau komunitas," beber Sari.

Simak video 'Polda Sumsel soal Donasi Rp 2 T Keluarga Akidi Tio: Saldo Tak Cukup':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)