Selasa, 03 Agu 2021 19:04 WIB

Bisakah Terkena Sindrom Long COVID Meski Sudah Divaksinasi? Ini Kata Ahli

Firdaus Anwar - detikHealth
BANGKOK, THAILAND - JUNE 07: A woman takes a selfie while being administered the AstraZeneca Covid-19 coronavirus vaccine by a health worker at the mass vaccination site inside the Siam Paragon shopping mall on June 07, 2021 in Bangkok, Thailand. Thailand began rolling out its long-anticipated mass vaccination program on Monday. The government has said it will vaccinate around 70 percent of its population by the end of the year, with either  Sinovac or AstraZeneca vaccines. The government has also announced plans to acquire Pfizer and Johnson & Johnson vaccines to bolster its program. (Photo by Sirachai Arunrugstichai/Getty Images) Foto: Getty Images/Sirachai Arunrugstichai
Jakarta -

Sebagian kecil orang yang sudah mendapat vaksin masih bisa terinfeksi COVID-19. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah orang yang sudah divaksinasi ini juga bisa berpotensi mengalami efek gejala jangka panjang atau long COVID?

Sindrom long COVID merupakan sebutan untuk fenomena pasien yang masih mengalami gejala 'sisa' sampai beberapa bulan setelah sembuh. Keluhan long COVID yang sering dilaporkan pasien mulai dari letih, batuk, sampai sulit konsentrasi.

Terkait hal tersebut, studi yang dilaporkan dalam The New England Journal of Medicine melihat beberapa orang tampaknya masih bisa mengalami long COVID meski sudah divaksinasi. Hal ini diketahui setelah peneliti memeriksa data dari 1.497 tenaga kesehatan yang sudah divaksinasi COVID-19 di Israel.

Diketahui dari 1.497 orang yang sudah divaksinasi, masih ada 39 yang tetap terinfeksi COVID-19. Dari jumlah tersebut total ada 7 orang atau sekitar 19 persen yang kemudian melaporkan gejala long COVID sampai enam minggu.

Gejala long COVIED yang dilaporkan para tenaga kesehatan tersebut adalah sakit kepala, nyeri otot, hilang fungsi penciuman dan perasa, serta kelelahan.

"Jika fenomena ini akan muncul pada semua yang mengalami gejala ringan saat ini, rasanya mengkhawatirkan," kata pemimpin studi Gili Regev-Yochay dari Sheba Medical Center seperti dikutip dari NPR, Selasa (3/8/2021).

Kepala tim perawatan klinis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Janet Diaz, berkomentar pada akhirnya vaksin tetap bisa membantu kasus long COVID. Caranya yaitu dengan melindungi orang-orang terhadap risiko infeksi meski mungkin tidak bisa sampai 100 persen.

"Masih banyak hal yang harus dipelajari mengenai dampak vaksinasi terhadap kondisi pasca-COVID-19. Namun, hal yang sudah jelas adalah mencegah infeksi COVID-19 merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya kondisi pasca-COVID," kata Dr Janet.



Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)