Kamis, 05 Agu 2021 06:04 WIB

WHO Minta Booster Vaksin COVID-19 Ditunda, AS Isyaratkan Tetap Lanjut

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
The hands in blue glove of the scientist hold the processor Foto: Getty Images/iStockphoto/Alernon77
Jakarta -

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan untuk menunda atau menangguhkan vaksinasi booster atau suntikan ketiga vaksin COVID-19, setidaknya hingga akhir September mendatang. Langkah itu diambil untuk memungkinkan 10 persen populasi di setiap negara bisa divaksinasi.

"Saya memahami keprihatinan semua pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari varian Delta. Tetapi, kamu tidak dapat menerima negara-negara yang telah menggunakan sebagian besar pasokan vaksin global untuk menggunakannya lebih banyak lagi," jelas Tedros yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis (5/8/2021).

Menurut WHO, negara-negara yang berpenghasilan tinggi bisa menyediakan 50 dosis untuk setiap 100 orang pada bulan Mei, dan jumlah itu bisa meningkat dua kali lipat. Sedangkan negara-negara yang berpenghasilan rendah, hanya mampu memberikan 1,5 dosis untuk setiap 100 orang karena kurangnya pasokan.

"Kami membutuhkan persediaan yang mendesak, sebagian besar vaksin masuk ke negara berpenghasilan tinggi dan sebagian lainnya ke negara yang berpenghasilan rendah," kata Tedros.

Imbauan ini tampaknya tidak menghentikan rencana Amerika Serikat untuk tetap memberikan booster jika diperlukan. Seorang pejabat Gedung Putih Jen Psaki mengatakan negaranya tetap bisa memberikan booster sekaligus mendonasikan kelebihan stok ke negara lain.

Sampai saat ini, beberapa negara mulai menggunakan atau mulai menimbang kebutuhan vaksin booster. Beberapa negara tersebut yaitu:

Jerman

Jerman akan mulai menawarkan vaksin booster pada bulan September mendatang, khususnya bagi orang-orang yang rentan.

Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab juga akan mulai memberikan suntikan booster untuk semua orang yang divaksinasi lengkap yang dianggap berisiko tinggi tiga bulan setelah dosis vaksin kedua. Sementara untuk kelompok masyarakat lain jarak pemberiannya enam bulan pasca suntikan kedua.

Israel

Pada pekan lalu, Presiden Israel Isaac Herzog telah menerima suntikan booster COVID-19. Negara itu juga mulai memberikan dosis ketiga ini pada orang yang berusia di atas 60 tahun.

Amerika Serikat

Pada bulan Juli lalu, Amerika Serikat telah menandatangani kesepakatan dengan Pfizer-BioNTech untuk membeli 200 juta dosis tambahan vaksin COVID-19. Vaksin itu akan digunakan untuk vaksinasi anak serta kemungkinan suntikan booster. Tetapi, badan regulator kesehatan AS masih perlu menilai perlunya suntikan booster ini.

Indonesia

Indonesia juga telah mulai memberikan vaksin booster COVID-19 yang diprioritaskan untuk pada tenaga kesehatan. Vaksin yang digunakan adalah vaksin COVID-19 Moderna.

Simak video 'Alasan WHO Minta Penyuntikan Vaksin Booster Covid-19 Ditunda Dulu':

[Gambas:Video 20detik]



(up/up)