Kamis, 05 Agu 2021 19:16 WIB

Jasa Cetak Kartu Vaksin Juga Sadar Risiko Pemalsuan, Ini Antisipasinya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jadi syarat masuk mal, jasa cetak sertifikat vaksin COVID-19 banjir order. Foto: Salwa Aisyah Sheilanabilla
Jakarta -

Kini bukti sertifikat vaksinasi COVID-19 resmi menjadi syarat sejumlah aktivitas seperti perjalanan luar kota dengan transportasi umum, atau masuk masuk beberapa mal di DKI Jakarta. Di tengah situasi tersebut, merebak bisnis baru jasa cetak sertifikat vaksinasi COVID-19 dalam bentuk kartu.

Lantas, bagaimana dengan datanya? Apakah aman jika diberikan pada pihak pencetak kartu, mengingat sertifikat vaksin memiliki QR code untuk mengakses data pribadi?

Salah satu pengusaha cetak kartu sertifikat vaksinasi COVID-19 asal Bandung, Beni, mengaku, penjualannya meningkat belakangan ini. Meski bisnis kecilnya baru jalan sebulan dalam rangka iseng cari pemasukan tambahan, kini jumlah pelanggannya melonjak. Ia yang awalnya hanya melayani belasan pelanggan, kini naik menjadi puluhan pelanggan per hari dari berbagai kota, bahkan luar Jawa.

Ia membenarkan, mau tak mau pelanggan harus memberikan data sertifikat vaksinasi COVID-19 jika ingin dicetak. Ia menjamin data pelanggan terlindungi. Namun ia mengingatkan, cetak sertifikat dalam bentuk kartu ini tak diwajibkan oleh pihak mana pun. Sehingga masyarakat bebas memilih mau atau tidak mau menggunakan jasa cetak kartu.

"Menjaga kepercayaan customer dengan menjamin data privasi mereka aman. Bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual jasa. Kami juga tidak sembarang mencetak, pasti melalui proses pengecekan terlebih dahulu keaslian sertif vaksinnya," ujar Beni pada detikcom, Rabu (4/8/2021).

"Jadi itu kan pilihan orang untuk mencetak sertifikat mereka sebagai kartu. Tidak ada pemaksaan, dan tidak wajib setau saya. Yang wajib itu sertifikatnya, bukan kartunya. Kami hanya menawarkan bantuan saja," lanjutnya.

Beni menegaskan, pihaknya tak ragu menolak jika ada data pelanggan yang ketahuan invalid, palsu, atau meragukan. Pihaknya akan mengkonfirmasi pelanggan lebih dulu. Jika pelanggan mengaku telah divaksin namun data tak terbaca, pelanggan akan diarahkan untuk menghubungi pihak terkait.

"Yang jelas, saat customer order dan mengirimkan foto sertifikat vaksin terlebih dahulu akan kami cek data tersebut valid atau tidak," bebernya.

Pentingkah menjaga kerahasiaan data sertifikat vaksinasi COVID-19?

Dalam sebuah kesempatan, juru bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, menegaskan bahwa masyarakat tak boleh sembarang menyebar data sertifikat vaksinasi COVID-19. Saat itu ia mengomentari tren membagikan foto sertifikat vaksin ke media sosial.

"Penting untuk diketahui bahwa di dalam sertifikat bukti telah divaksinasi terdapat data pribadi dalam bentuk QR Code yang dapat dipindai," ujar Prof Wiku.

"Gunakan sertifikat tersebut sesuai dengan kebutuhannya, karena tersebarnya data pribadi dapat membawa risiko bagi kita," pungkasnya.



Simak Video "Sertifikat Vaksin Covid-19 di PeduliLindungi Eror? Coba Lakukan Ini!"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)